24 Februari 2016

Sepasang Bola Mata

(Solopos, 17 Januari 2016)

Sumber: Yuditeha

Piling—bukan nama sebenarnya—tampak begitu cemas ketika mendapati kedua matanya tidak bisa memandang sesuatu dengan sama. Meskipun seandainya sebuah celana berwarna cokelat tengah ia pandangi, di satu sisi akan terlihat cokelat tua dengan warna sempurna, sementara di mata yang lain akan berwarna cokelat pudar serupa benda yang telah usang dan tidak layak untuk  digunakan  siapa saja pemiliknya.
            Demikian ia ingin pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Barangkali hal itu terjadi sebab ia baru saja bangun tidur dengan kepala yang masih berat dan rasa kantuk yang masih menggantung di tiap-tiap matanya. Ia menyadari bahwa jam tidurnya teramat kurang sebab mesti mengerjakan banyak hal di tengah-tengah waktu orang-orang tidak lagi beranjak dari tempat tidur: mengerjakan laporan, membaca buku, menulis artikel, essai, cerita pendek, novel, dan sebagainya.
            Ia melipat selimut, menumpuk dua bantal, guling, membersihkan seprai dengan sapu kasur, kemudian menatanya. Kemudian memandangi meja kerja yang di atasnya berserak tumpukan kertas dan beberapa buku.
            Belum sempat ia pergi ke kamar mandi untuk sekadar mencuci muka, seseorang di luar telah lebih dulu mengetuk pintu rumahnya. Ingin sekali memaki orang tidak tahu diri itu, namun ia urungkan karena pada dasarnya orang itu tidak tahu persoalanya, dan memang tidak penting untuk diceritakan atau dijadikan alasan menolak tamu yang tengah berkunjung.
            Akhirnya dengan sepenuh perasaan terpaksa, ia membuka pintu, menyembulkan kepalanya dengan hanya separuh badan yang tampak dari luar. Rambutnya masih sama berantakannya dengan meja yang tidak sempat dibereskan.
            “Mengganggu?”
            “Oh, tidak.” Sebenarnya ia ingin sekali berkata ‘ya’, namun rasanya tidak pantas sekali, meskipun sesungguhnya ia memang ingin sekali marah-marah dan mengatai orang itu dengan umpatan tak tahu diri pagi-pagi bertamu—tidak tahu waktu—dan kalimat-kalimat lain yang bisa saja tidak berhubungan dengan kekesalannya.
            “Aku sudah mengirim sebuah pesan singkat kepadamu, tapi rasanya kau tidak akan membacanya, dan mungkin memang belum.”
            “Oh ya? Aku belum membuka ponsel. Masuklah!”
            Pintu yang semula hanya terbuka separuh itu kini sudah terbuka sepenuhnya, dan dibiarkan seperti itu tanpa menutupnya kembali.
            Piling mengambil ponsel dan mengecek kalau-kalau tamunya itu tengah berkata bohong mengenai sebuah pesan terkirim yang dibuat-buat. Tapi ternyata memang benar, dan kini ia mengetahui maksud orang itu mengapa pagi-pagi sekali sudah menemuinya.
            “Baru bangun tidur? Wajahmu tidak terlalu bagus. Rambutmu juga. Semuanya tampak seperti sebuah kampung yang baru saja dicium badai.”
            “Benar. Aku belum cuci muka. Maka tunggulah sebentar.”
            Seseorang itu menunggu, memutar-mutar kunci motor di jari telunjuknya. Pandangannya manyapu seisi ruang dengan asal-asalan. Tidak ada sesuatu yang baru, atau setidaknya sesuatu yang menarik perhatiannya, kecuali ikan-ikan di sudut ruangan, di dalam akuariun. Miniatur laut yang tampak pura-pura biru sebab gambar pemandangan di dinding akuarium dan batu-batu buatan yang berwarna-warni.
            “Seharusnya akuarium ini tampak begitu indah. Tapi entahlah, aku tidak tahu benar rupa keindahan.” gumamnya.
            Piling kembali dengan dua buah gelas berisi kopi hitam yang aromanya menelusuri seluruh ruang.
            “Terima kasih.”
            “Tidak usah geer. Memangnya siapa bilang kopi ini untukmu?”
            Seketika wajah tamu itu meredup. Barangkali malu bercampur kesal, seolah tengah berkata: kalau saja aku tidak membutuhkan bantuanmu, aku tidak terima kau perlakukan seperti ini. Memangnya kau siapa?
            “Tidak usah dipikir. Minumlah. Tentu saja aku temanmu.”
            Lelaki tamu itu terkejut menyadari Piling seperti pembaca pikiran yang andal.
            “Jangan berpikir bahwa aku bisa membaca pikiranmu. Aku bukan peramal. Aku hanya menebak gerak tubuhmu. Itu tidak terlalu sulit.”
            Percakapan antara tamu dengan tuan rumah tercipta dengan semestinya. Sesungguhnya karakter laki-laki yang bertamu itu terlalu pemalu dan kaku jika mengingat hubungannya dengan Piling sudah berlangsung puluhan tahun. Bahkan sejak bayi, para orang tua mereka sudah saling mempertemukan satu sama lain. Tentu saja masih banyak orang lain yang dekat selayaknya mereka. Paling tidak ada delapan orang, dan seluruhnya laki-laki.
            “Aku bermimpi seseorang mencongkel bola mataku,”
            “Tapi itu cuma mimpi, ‘kan? Syukurlah pagi ini kau datang masih dengan sepasang mata yang lengkap.”
            “Tentu saja, ini bukan fiksi.”
            “Lantas apa  yang kau takutkan?”
            “Mimpi itu terus berulang sehingga aku sangat takut untuk tidur.”
            “Maka tidurlah dengan mata terbuka.”
            “Jangan bercanda.”
            “Baiklah. Lalu apa yang bisa kubantu untuk melepaskanmu dari mimpi buruk itu?”
            “Aku ingin meminjam uang.”
            Di antara mimpi buruk dan ingin meminjam uang memang seperti tidak berhubungan, tapi tidak ada yang tidak mungkin jika sesuatu hidup di dalam kepala manusia.
            Amat—tamu itu—segera berbisik di dekat telinga Piling. Reaksinya bisa diduga, Piling kaget dengan apa yang dikatakan Amat. Barangkali nominal yang diminta terlalu besar, dan saat ini Piling tidak banyak menyimpan tabungan.
            “Nanti kuberi kabar,”
            “Baiklah. Sekarang aku harus pergi. Kau juga akan ke kantor, ‘kan?”
            “Ya.”
            Sepeninggal Amat, Piling masih terus berpikir bagaimana cara untuk membantu temannya itu. Tentu saja ia merasa kasihan, dan tidak ingin membiarkan temannya berlarut-larut dalam sebuah mimpi buruk. Ia kembali ke kamar dan kembali tidur.
            Pukul 11.23 WIB dan Piling baru menyadari bahwa hari ini adalah Minggu. Ia melepas napas lega, karena sebelumnya sudah sangat khawatir sebab ia sudah membolos kerja dan tidak bisa membayangkan makian bosnya yang menyerupai monster raksasa.
            Bahkan ia baru menyadari bahwa pagi sebelumnya Amat datang mengetuk pintu rumahnya untuk meminjam uang. Ah, uang. Lagi-lagi uang.
            Ia memutuskan untuk menelpon Amat. Beberapa kali panggilan tidak diangkat. Akhirnya ia putuskan mengirim sms: Aku akan membantumu. Kita harus ketemu.
            Tidak butuh waktu lama, Amat sudah membalas pesan singkat itu: Baiklah. Di kedai kopi dekat balai desa.
            Sore hari, mereka bertemu di kedai kopi yang sudah disepakati. Tidak ada pembeli selain mereka, namun tetap saja di antara mereka berbicara hampir tanpa suara.
            “Kau tidak perlu meminjam uang.”
            “Kenapa begitu?”
            “Jangan khawatir, aku akan tetap membantumu.”
            “Bagaimana?”
            “Rahasia.”
            Begitulah mimpi-mimpi itu serupa peluru yang dimuntahkan alam tidur. Tidak ada seorang pun yang bisa mengendalikannya. Segalanya terjadi atas kehendak sang peri-peri mimpi. Tidak bisa diatur hari ini atau besok hendak bermimpi apa seperti merencanakan sebuah menu masakan atau sebuah masa depan—bahkan dalam merencanakan masa depan pun terlalu banyak hal tidak terduga di dalamnya.
            Tidak hanya Amat, Piling pun mulai ditarik dalam sebuah mimpi yang berbahaya. Sebuah peperangan. Jika di antara mereka berani keluar rumah dan berada di jalan-jalan, risikonya adalah mati. Melakukan perlawanan atau tidak, sama saja jika tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengalahkan lawan.
            “Mestinya aku tidak ikut-ikutan!”
            Kemarahan Piling tidak terbendung lagi.
            “Aku kan tidak pernah mengajakmu. Aku hanya ingin meminjam uang. Tapi kau yang menawarkan diri untuk masuk ke dalam masalahku.”
            Benar. Memang begitu kenyataan yang harus diterima Piling. Amat tidak bersalah. Semakin hari, ia semakin menyelahkan dirinya sendiri.
            “Aku tidak punya uang!”
            “Maka seharusnya kau tidak usah pura-pura ingin membantu.”
            Setiap pagi selepas bangun tidur, Piling tidak lagi bergairah untuk menyentuh apapun. Kamarnya sudah melebihi kapal pecah yang karam di lautan. Benda-benda berhamburan, tidak teratur dan sangat terlihat buruk. Begitu juga wajahnya, rambutnya—ia jadi jarang sekali mandi—tidak pernah dicuci, jarang ganti baju, dan kerjaannya hanya menyalahkan diri sendiri.
            Pandangan matanya juga semakin buram, melebihi televisi berwarna berisi berita tidak penting soal pemerintahan yang dirubung semut, atau kaca jendela yang ditumpahi hujan. Antara kiri dan kenan semakin sama dan berkejaran. Jika semula bagian satu memandang cokelat sempurna dan bagian lain cokelat pudar, kini ia hanya bisa memandangnya dengan abu-abu, hitam, dan putih. Tidak ada warna-warna yang sudi memasuki sepasang bola mata.
            Tidak ada lagi yang bernama keindahan di dalam pandangannya. Segalanya menjadi mendadak tidak menarik lagi untuk disaksikan. Dunia serupa mainan anak-anak yang sejenak dan mudah ditinggalkan. Ikan mas di sudut ruangan dalam akuarium pun hanya serupa genangan lumpur dalam air. Sepasang bola matanya hampir rabun seperti juga yang dialami Amat, sahabatnya.

Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar