10 Januari 2021

Nama dan Ingatan Tentang Sebelum Hari Ini


Unsplash - vaun0815


1/

“Pastikan kau tidak sedang mabuk ketika sedang mendengarkan cerita ini,”

“Cerita? Mabuk?”

“Ya,”

“Tapi tak seorang pun mampu mendengar dengan baik ketika sedang berada dalam kondisi mabuk.”

“Benar. Tetapi ada seseorang yang lebih menyukai dirinya berada dalam kondisi ini ketika sedang ingin menuliskan sesuatu,”

“Bagaimana bisa seperti itu?”

“Sebenarnya tidak demikian. Ia pernah mengaku bahwa kepalanya seperti jalan raya yang berisik oleh lalu lalang kendaraan dengan segenap polusi udara dan bising suara klakson yang menyertainya, kemacetan yang sesak, dan jam-jam yang selalu dengan sangat mudah terlewat tanpa benar-benar mampu ia baca. Putaran jarum jam itu seperti ketidaksadaran yang tiba-tiba membangunkannya dari sebuah tidur yang nyenyak. Seringkali ketidaksadaran memang bekerja memudahkan sesuatu. Maka seseorang itu akan bisa masuk sepenuhnya ke dalam kepalanya untuk kemudian memungut untuk kemudian mencurahkan isi kepalanya seperti sedang menyemprotkan cat-cat warna pada sebuah dinding yang ia ingin gambar. Seperti sebuah mimpi yang terjadi begitu saja ketika seseorang tidur. Bukankah itu demikian mudah sehingga ketika seseorang itu terbangun ia hampir tidak menyadari ketika ia bermimpi?”

“Jadi sebetulnya kau ingin bercerita tentang apa dan siapa?”

“Ia seorang perempuan bernama Nama,”

“Memangnya apa yang terjadi dengannya?”

“Entahlah. Tapi mungkin ketika itu ia adalah lampu lalulintas yang gagal mengendalikan kendaraan yang melintas sehingga menyebabkan kekacauan.”

2/

Nama. Hanya Nama. Tidak ada embel-embel lain di deretan nama lengkapnya. Dirinya bahkan tidak mengetahui arti atau apa yang ada di belakang namanya. Serta mengapa orang tuanya memberinya nama seperti itu. Kebanyakan orang akan bertanya berkali-kali untuk memastikan tentang namanya.

“Siapa namamu?”

“Nama.”

“Kubilang sekali lagi, siapa namamu?”

“Namaku adalah Nama.”

“Apa?”

“Kau tidak mendengarku?”

Percakapan itu akan berakhir dengan perubahan raut wajahnya yang tampak memerah tersebab keinginan marah, atau barangkali lelah karena terlalu sering orang-orang menanyakan mengenai namanya yang telah ia jawab dengan baik dan benar bahwa namanya adalah Nama. Di antara orang-orang itu, karena tidak ingin sepenuhnya percaya bahwa apa yang didengarnya adalah kebenaran, akan mengira bahwa Nama adalah sebuah pseudoname.

Setelahnya akan ada jeda yang cukup lama, bukan bermaksud untuk menghentikan pembicaraan, ia hanya sedang mengambil jarak untuk mencegah keinginan memaki-maki orang di hadapannya. Ia tahu menahan sesuatu bukan hal yang sehat dan kelak akan melahirkan sebuah gunung api yang bisa meletus sewaktu-waktu, tetapi meluapkannya dengan penuh kemarahan hanya akan membuat orang lain melihatnya sebagai seseorang yang memiliki kendali emosi yang buruk. Tentu saja ia tidak menginginkan orang-orang menganggapnya seperti itu.

“Mengapa tidak kita lupakan tentang nama? Manusia mungkin memberi nama untuk binatang peliharaannya agar memudahkan dalam mengingat, tetapi mungkin di dunia binatang, nama-nama itu tidak lagi ada.”

Beberapa teman-temannya akan menerima usulannya dan tak lagi mempersoalkan namanya. Mereka bisa saja menciptakan nama lain yang mereka inginkan untuk memudahkan dalam menyapa, atau memanggilnya dengan Na atau Ma atau Ama. Ia tak terlalu peduli, asalkan mereka tak memaksanya menunjukkan kartu identitas, meskipun tentu saja ia menghargai orang-orang yang mempercayai namanya di awal pertemuan mereka.

Di suatu sore yang hening, Nama menciptakan kekacauan yang tak bisa ia kendalikan dengan baik. Sepasang matanya berkaca-kaca meskipun telah sedemikian rupa ia tahan agar air matanya tidak jatuh. Orang-orang berkumpul di halaman rumahnya untuk memastikan apa yang sedang terjadi di hadapan mereka.

“Duduk dan tunggulah sampai hatimu benar-benar tenang. Lalu berceritalah dengan baik. Kami tak bisa paham jika kau bercerita dengan sangat terburu-buru seperti itu.”

Setelahnya, Nama bercerita. Ia tidak memulai cerita dengan awalan ‘pada suatu hari …’ karena awalan cerita seperti itu sudah lebih dulu ada untuk dongeng-dongeng yang telah hidup sangat lama. Dan sudah terlalu banyak cerita yang menggunakannya untuk pembuka. Meskipun ia bukan penulis, ia tidak ingin menggunakan sesuatu yang sudah dipakai terlalu banyak sehingga berpotensi menimbulkan rasa bosan.


3/

Ingatannya seolah labirin-labirin tanpa jalan keluar. Nama tersesat di dalam ingatannya sendiri. Tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya, karena bagi orang lain ia baik-baik saja. Ia justru tampak sebagai seseorang setengah sinting yang gemar berteriak-teriak mencari dan mencuri perhatian. Kadang-kadang ia juga terlalu banyak melamun karena sedang memikirkan jalan keluar dari ingatannya sendiri.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”

Ia seringkali melontarkan pertanyaan itu, yang bagi orang lain tentu adalah sebuah pertanyaan yang konyol. Tentu saja mereka pernah bertemu. Dan mereka saling kenal karena telah saling menyebutkan nama. Pertemuan itu tidak cukup sekali.

Kadang-kadang terlalu banyak hal yang baginya terasa sama. Ia seperti kehilangan tanda di jalan-jalan ingatannya.

Pagi itu seorang lelaki masuk ke dalam ruang kerjanya, meminta surat keterangan bahwa lelaki itu tidak lagi punya tanggungan pinjaman buku. Nama memang seorang pustakawan. Ia menyukai buku-buku seperti halnya ketika ia merawat kenangan-kenangan yang telah lama ia simpan.

“Aroma kenangan—kau tahu—seperti harum kopi yang baru saja diseduh dalam air panas delapan puluh derajat, lalu kau mengaduknya dengan pelan sehingga aroma itu semakin sesak berdesakan di seluruh ruang.”

Ia mengatakan itu pada Ruin, salah seorang teman kerjanya dan hanya dibalas dengan senyuman. Tentu saja Ruin tak pernah berpikir bahwa kenangan punya aroma, karena kenangan bukanlah sesuatu yang bisa diraba seperti kopi atau roti yang baru saja diangkat dari alat pemanggang.

“Kau belum mengembalikan Buku Tentang Ruang dan Rumah Kertas. Apa kau hendak mengembalikannya hari ini?”

“Tidak. Maksudku, aku tidak menemukan keduanya di mana pun. Aku kehilangan buku-buku itu.”

“Tentu saja kau harus menggantinya dengan buku-buku yang sama. Kau bisa kembali lagi ketika kau sudah membawa kedua buku tersebut.”

“Apakah tidak ada cara lain? Aku sedang sangat terburu-buru.”

“Aku tidak sedang menyulitkanmu. Tapi sayangnya memang tidak ada cara lain. Aku tidak berpikir untuk membiarkanmu mengganti dengan salinan foto kopi, karena itu artinya aku membiarkan buku-buku bajakan beredar.”

Lelaki itu diam. Seperti hendak marah. Tapi akhirnya ia pergi dengan sukarela, tanpa berkeinginan memaksa Nama untuk segera memberikan surat pernyataan yang ia inginkan.

Tiga jam kemudian, seorang lelaki kembali masuk ke dalam ruangannya. Ia memiliki tujuan yang sama dengan lelaki sebelumnya. Lelaki itu menyerahkan kartu anggota perpustakaan, sementara Nama memandang dengan curiga.

“Kau?”

Lelaki itu tampak bingung.

“Apakah kau sudah membawa buku-buku yang belum kau kembalikan?”

“Apa?”

“Tiga jam yang lalu kau sudah ke berkunjung ke sini, kan?”

“Tidak. Bukan aku.”

Ia tidak ingin begitu saja mempercayai ucapan lelaki di hadapannya. Nama tetap memberikan surat keterangan yang diminta karena lelaki di hadapannya—berdasarkan catatan peminjaman—tidak sedang meminjam buku apapun. Tapi di hadapannya, lelaki yang saat ini dengan lelaki tiga jam yang lalu adalah lelaki yang memiliki wajah yang sama.

Nama buru-buru menghubungi salah seorang temannya di unit kerja lain, cemas kalau-kalau kecurigaannya benar-benar terjadi.


4/

Di mimpinya, Nama melihat burung-burung terbang memangsa ingatanya. Satu demi satu. Seperti sedang mematuk kayu-kayu yang kian rapuh untuk selanjutnya patah sepatah-patahnya. Pertama-tama burung-burung itu melubangi kepalanya, lalu memungut satu demi satu ingatannya hingga kelak tak bersisa sedikit pun.

Ia bangun dengan tubuh berkeringat seolah habis berlari menghindari segerombolan pemuda yang kisruh di tengah aksi demonstrasi. Mereka yang hanya memikirkan keinginan untuk menang melawan aparat tetapi tidak memikirkan bahwa merusak fasilitas umum adalah tindakan yang merugikan banyak pihak, termasuk masyarakat yang tidak terlibat di dalam kerusuhan itu. Selanjutnya ia menciptakan kekacauan yang tak bisa ia kendalikan dengan baik. Sepasang matanya berkaca-kaca meskipun telah sedemikian rupa ia tahan agar air matanya tidak jatuh. Orang-orang berkumpul di halaman rumahnya untuk memastikan apa yang sedang terjadi di hadapan mereka.

“Duduk dan tunggulah sampai hatimu benar-benar tenang. Lalu berceritalah dengan baik. Lalu katakan, jika kau punya keinginan, apakah keinginan terbesar yang benar-benar kau inginkan?”

“Membunuh burung-burung yang memangsa cerita-ceritaku. Mereka membuat ceritaku tak lekas bertambah dan justru akan senantiasa berkurang karena tak henti-hentinya dicuri oleh burung-burung itu ….”[]
 
Juli, 2019








Tidak ada komentar:

Posting Komentar