![]() |
| Photo by Pavel Danilyuk |
Siapa sih yang tidak mengenal AI? Belakangan ini perkembangan AI terbilang cukup pesat dan bahkan hampir bisa dipastikan bahwa cara kerjanya sudah tidak terlalu terasa sebagai cara kerja otomatis. Ia tengah menjadi primadona teknologi saat ini, digembar-gemborkan dari segala lini.
AI juga semakin banyak mendapat stimulasi untuk pengembangan machine learning yang menjadi database-nya sehingga mulai memahami kode etik bahkan emosi yang dimiliki manusia.Kita hanya butuh foto sampel untuk membuat karakter atau bahkan video tertentu sesuai keinginan dan AI akan mengerjakannya dengan hitungan menit bahkan detik. Pekerjaan-pekerjaan seperti ilustrator, fotografer, videografer, penulis, desainer grafis dsb. bisa dikerjakan oleh AI tanpa memerlukan waktu yang panjang, sehingga—asal seseorang tahu cara menciptakan promp yang dibutuhkan—setiap orang akan bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan itu dengan bantuan AI tanpa memerlukan skill yang berarti.
Ketika seseorang bermaksud akan membuat sebuah tulisan atau gambar ilustrasi maka diperlukan modal dasar yang perlu untuk dipelajari, dan itu butuh jam terbang latihan dan konsistensi tinggi. Perlu latihan dan kerja keras sampai akhirnya seseorang bisa dikatakan sebagai ahli. Tapi tidak demikian dengan AI, ia bekerja sesuai perintah promp yang diinginkan user dan ia akan mengerjakannya secara otomatis.
Namun, yang tidak banyak diketahui sebagian kita bahwa AI tetaplah sebuah mesin yang hanya mampu mengambil dari sumber informasi yang tersedia. Di internet misalnya. Maka kemudian ketika seseorang meminta gambar ilustrasi tertentu, ia akan mencomot dari sekian banyak gambar yang tersedia di dalam database secara bebas dan menggabungkan dari banyak informasi yang tersedia. Bagaimana pun, ia akan sulit menciptakan sesuatu yang bersifat original. Untuk itulah, banyak dari para kreator seperti ilustrator dan penulis sangat menentang keras dengan orang-orang yang terjun ke dalam bidang kreatif tetapi bekerja menggunakan AI.
Lalu, bagaimanakah seharusnya kita menyikapi AI?
Mengikuti Perkembangan Teknologi
Mengikuti perkembangan teknologi tentunya sesuatu yang positif, karena jika tidak barangkali akan bernasib sama dengan sebuah brand teknologi asal Finlandia, Nokia yang pernah menempuh kejayaan menjadi raksasa teknologi pada tahun 1990-an tapi karena ia terlalu percaya diri dengan nama besar, menolak untuk ikut arus perkembangan smartphone yang mulai merambah teknologi android dengan tetap membanggakan teknologi QWERTY-nya—dan meski kemudian membuat inovasi dengan menandatangani kerjasama bersama Microsoft pada tahun 2014--meski akhirya ia tetap mengadopsi teknologi android, pada akhirnya Nokia sudah menjadi tertinggal dan kehilangan banyak peminat.
Namun, alangkah baiknya jika kita menggunakan AI hanya sebagai teman ngobrol (brainstorming) untuk menggali ide-ide, karena terkadang, tak jarang informasi yang dimiliki AI ngawur dan harus benar-benar dicek validitasnya.
AI Bukan Jalan Pintas
“AI will not replace humans, but humans with AI will replace human without AI.”—Sam Altman
Karena kemudahan akses dan cara kerjanya yang sangat cepat, bisa dibilang AI adalah semacam jalan pintas. Bagi siapa saja, menciptakan suatu karya atau bahkan produk bisa dilakukan hanya dengan sentuhan jari, dan merupakan sebuah bumerang. Apa yang dilemparkan akan kembali melukai si pengguna. Begitulah, AI pada akhirnya sering disalahgunakan oleh para pelajar yang malas belajar atau malas mengerjakan tugas dan memilih jalan pintas satu jentikan ‘tring!’ dan voila! tugas selesai.
Pada akhirnya otak akan semakin tumpul karena tidak digunakan untuk berpikir. Kemudahan menjadikan pelajar malas untuk menganalisa. Pokoknya maunya asal beres saja. Hal ini tentu buruk bagi perkembangan dunia pendidikan. Selain segala kecanggihan dan kemudahannya, rupanya AI menyimpan sebuah bom waktu yang jika dibiarkan akan menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Tentu saja kita tidak seharusnya melarang penggunaan AI, tapi alangkah baiknya jika menjadikan AI sebagai alat untuk memulai pekerjaan, bukan hasil akhir yang mutlak dan tidak dipikirkan lagi benar atau salahnya.
Terus terang, saya begitu geram ketika berkali-kali mendapati siswa yang diminta untuk menulis kreatif (yang seharusnya bersifat otentik hasil dari ide siswa sendiri), malah memilih menggunakan AI. Terkesan malas dan tak ingin kerja keras.
Pernah suatu kali ketika saya mendampingi seorang siswa SMK untuk ikut lomba menulis resensi—saya langsung mengetahui bahwa ia menggunakan AI, tak peduli ketika ia mengatakan tidak—saya menemukan frasa ganjil yang tidak ada dalam buku—saya tahu sebab sudah membaca buku yang ia tulis resensinya—dan ketika bertanya mengenai arti frasa tersebut, ia tidak bisa menjawab. Demikianlah kemudian ia ‘terpaksa’ mengakui bahwa ia memang menggunakan AI.
Sebagai mesin, AI punya celah dengan menunjukkan pola tertentu yang mudah untuk dibaca. Bahkan terkadang, meski seseorang mengubahnya, seringkali tulisan yang dibuat AI punya tatabahasa yang bisa dibilang terlalu sempurna—jika tidak ingin dibilang terlalu kaku--dengan pola-pola tanda baca atau frasa tertentu yang khas. Bisa dibuktikan, ketika saya mencurigai karya-karya tertentu hasil buatan AI dan saya menanyakan ke yang bersangkutan, ia akan membenarkan bahwa ia memang menggunakan bantuan AI—alih-alih mengakuinya secara terang benderang, ia memilih ‘menggunakan bantuan AI’ untuk menimbulkan kesan bahwa ia telah bekerja keras sebelumnya, dan menyempurnakan hasilnya dengan AI—padahal bisa jadi, sesungguhnya kerja kerasnya itu tak pernah benar-benar ada.[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar