14 Januari 2016

Resensi Cala Ibi -- Nukila Amal


 
Gambar: Google

  Data Buku:

Judul: Cala Ibi
Penulis: Nukila Amal
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 277 Halaman
Cetakan: Cover baru, April 2015
ISBN: 978-602-03-1418-1
 

Persoalan gila, atau siapa yang biasa-biasa saja, bukan menjadi urusan kita. Tapi saya merasa perlu menempuh pelajaran itu untuk tahu kedalaman manusia. Hal-hal yang terjadi dengan Maia seringkali di luar kendali akal sehat manusia. Belum apa-apa, novel ini sudah dibuka dengan sesuatu yang menarik:
 
Lalu bapakmu akan berkata, bintang tak pernah secantik tampaknya, tak sedekat yang kita duga. Ia cuma penghias panas malam para pemimpi.
Tapi aku mau terbang. Aku mau menyentuh bintang. Jika ujung jariku melepuh, akan kubelah lima. Dan pulang dengan sepasang tangan berjari lima puluh.
 
Keindahan. Barangkali itu yang dapat saya tangkap dari keinginan terdalam penulis dalam caranya menyampaikan gagasan. Kalimat-kalimat mengalir seperti sungai. Sungai yang dipenuhi kata-kata menuju muara bernama keindahan. Namun demikian, bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan kalimat-kalimat indah, puitis, dan tampak rumit—memang kalimat-kalimat itu menyerupai puisi yang panjang—akan merasa sedikit kelelahan dalam menyelami rangkaian demi rangkaian susunan kalimatnya. Namun demikian, mampu membebaskan imajinasi dengan gerak yang seliar-liarnya.
Pada dasarnya, sebuah karya ada terkadang tidak harus untuk dimengerti. Cerita bermula ketika Ibu Maya bermimpi, Maya memakan bunga dan tubuhnya dipenuhi tato berwarna hijau-biru. Tubuhnya dipenuhi gambar batu,awan, pohon, burung seperti lanskap dunia baru yang hidup di permukaan kulitnya.
Keganjilan yang terjadi pada Maya, yang entah bagaimana mulanya berubah manjadi Maia di dalam sebuah perjalanan panjang bernama mimpi, Maia bertemu dengan seekor naga. Naga yang diberi nama Cala Ibi. Naga itu semula adalah sebuah boneka yang diberikan oleh Laila untuk menghiburnya ketika bersedih. Dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba boneka naga itu menjelma seekor naga yang sebenar-benarnya naga. Kelak naga itu yang akan membawanya terbang menuju tempat demi tempat yang juga ganjil. Bahkan pada suatu bagian, ketika ia terbang dengan menunggang punggung naga dan segala yang di bawah tampak seolah datar, ia terjatuh. Bukan ke bawah, tetapi ke atas.
            Jika dimisalkan bahwa cerita di dalam novel ini adalah sebuah kereta, ia berjalan tidak pada lajur rel yang telah tersedia, dan hal itu merupakan sebuah kesengajaan. Kesengajaan yang diciptakan untuk sebuah pemahaman lain, dari sudut pandang yang tidak biasa. Adegan demi adegan bergantian antara yang mustahil dan yang nyata, tanpa batas yang berarti, bahkan jika dicermati, di dalam novel ini jarang sekali membubuhkan tanda petik pada setiap percakapannya, baik percakapan langsung atau pun tidak langsung.
            Pada mimpi yang lain, naga mewujud seorang pria. Kemudian muncul laki-laki abu-abu bernama Ujung, dan perempuan merah yang dipenjara bernama Tepi. Pencarian tidak berhenti, hingga akhirnya hutan menyeret kaki mereka pada belantara yang dipenuhi kata-kata—hutan kata-kata—yang kelak membawa pada pertanyaan: akhir ataukah justru awal (permulaan).
            Benda-benda hidup, menghidupi dirinya sendiri, menyebutkan makna masing-masing melalui kalimat seperti puisi. Seolah sedang berkata pada dirinya sendiri, padahal tidak. Mereka tengah berbicara kepada Maia. Memperkenalkan diri seolah kamus istilah kata-kata sulit yang penting untuk dipelajari untuk melindungi diri sendiri dari kesedihan yang tak berkesudahan.
 
Pada mulanya adalah Alif, awal semua huruf, sebuah garis lurus sederhana, yang lalu memecah jadi huruf, kata, kalimat, cerita,. Huruf hidup pengakhir huruf mati dalam namaku. Namaku atau namanya. Bagaimana kutahu, mana yang lebih nyata: aku atau ia, mimpi atau kenyataan. Aku merasa tak perlu mempersoalkannya (hlm. 257).
 
Kenangan buruk masa lalu dialami Maya, konflik Maluku  pada Juni 1999,  dua kampung bertetangga di Halmahera berebut sebuah tambang emas. Peristiwa yang hampir merenggut keluarganya, ia dan kakaknya berpindah, sementara bapaknya tidak. Juga luka lain persoalan kegagalan cerita cintanya, ia gagal menikah dengan lelaki yang sudah bertunangan dengannya. Antara peristiwa, luka, mimpi (dan karakternya yang menyukai dongeng tak masuk akal), dan pencarian yang saling berhubungan, seolah mimpi itu ada sebab luka yang dimilikinya.
Sejak mula Nukila Amal telah memikat pembaca (saya) dengan kalimat-kalimat yang mengagumkan. Kata demi kata yang tumpang tindih, meskipun seandainya pada aturan penulisan kalimat yang sesuai aturan EyD bisa dikatakan tidak ada hubungan, yang namanya kalimat (seolah)—atau memang benar—puisi, ia akan tetap mengalir sebagai puisi. Dan itu menyenangkan. Seolah membuat saya tenggelam di lautan kata-kata yang dipenuhi banyak warna dan gambar-gambar hidup yang kadang-kadang berjalan tanpa perlu dipahami.
 
Menurutmu pembaca mengerti? Ujung berkata pada Cala Ibi. Cala mengangkat bahu. Aku menerangkan untuk Maia. Bukan untuk mereka, biarkan saja mereka dengan tafsiran dan dugaan (hlm. 236).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar