9 Maret 2020

Malam yang Semakin Malam

Ilustrator: Fina Lanahdiana

Era memperhatikan sepasang kulacino di meja kafe Earth dengan pandangan yang seolah melayang membayangkan hubungannya yang cukup ganjil dengan seseorang. Bercak air itu bekas gelas minumnya yang berisi es lemon tea. Berbentuk dua lingkaran yang saling terpaut. Seperti sebuah diagram venn.

Belakangan ia sedang menyukai rasa asam. Seseorang di hadapannya berkali-kali mengaduk kopi yang sebenarnya tanpa gula yang tak perlu diaduk. Ia hanya heran memperhatikan Era. 

“Akhir-akhir ini kulihat kau selalu memesan menu-menu dengan rasa asam. Tidak biasanya bahwa sebelumnya kau adalah seseorang yang menyukai rasa manis seperti cokelat atau es krim.” 

“Merasakan sensasi asam seperti sedang menikmati warna-warna cerah di lidah. Apakah kau pernah membayangkan bahwa warna punya rasa?” 

“Ha…” 

“Kenapa suaramu seperti itu? Kau baik-baik saja?” 

“Tentu saja. Aku hanya…” 

“Buah-buahan punya warna cerah. Dan mereka begitu segar.” 

“Tidak tahulah.” 

“Menurutmu apakah jarak selalu tercipta jika dua orang telah salah dalam berkomunikasi?” 

“Kau sedang ingin marah atau apa?” 

Era hanya menggeleng seperti malas menjelaskan banyak hal. Tetapi ia telah membulatkan tekad untuk bercerita pada sahabatnya itu. 

“Lon… menurutmu bagaimana hubunganku dengan Prima?” 

“Hubungan yang bagaimana? Apakah kau menyukainya atau Prima yang menyukaimu?” 

“Tidak, bukan itu. Hubungan sosial.” 

Sesuatu yang aneh bahwa Era tidak pernah bisa melakukan kontak mata langsung dengan Prima, atasannya itu. Ia tidak tahu dan tidak ingat apakah di antara keduanya pernah terjadi selisih paham, namun yang ia rasakan selama ini segalanya berjalan baik-baik saja. Ia perempuan yang mudah beradaptasi meski dengan orang asing sekali pun. Ia akrab dengan hampir semua rekan kantornya, kecuali Prima. Ia selalu ingin lari dan menghilang sejauh-jauhnya setiap kali mereka berpapasan tanpa sengaja. Interaksi hanya terjadi ketika lelaki itu secara pribadi mengajaknya berdiskusi tentang pekerjaan, meskipun tetap saja Era tidak pernah bisa melihat dengan mata. 

Tangannya akan selalu pura-pura sibuk sedang makan, minum atau berselancar di atas papan kibord, dan ia hanya melihat dengan telingannya. Kadang-kadang ia berpikir betapa dirinya tidak punya sopan santun melakukan tindakan itu di hadapan atasannya. Tapi sekali lagi, ia tidak bisa memandang Prima dengan mata. 

“Mungkin benar bahwa tanpa kau tahu, kau menyukainya,” 

Kalimat itu meluncur sangat hati-hati, seolah roda kendaraan yang berjalan di aspal yang terjal. 

“Aku tidak berpikir demikian.” 

Suara itu seperti sebuah keputusasaan, dan merasa sia-sia telah mengajak Lon untuk mendengar ceritanya. Benar-benar tidak berguna. Tidak ada solusi bagus yang ia dapatkan hari ini. 

Sepasang telapak tangan Era ditangkupkan di atas wajah dengan ekspresi hampir berteriak. Kemudian satu tangannya mengepal hendak memukul meja. 

“Kau tidak sedang berpikir untuk menciptakan keributan kan, Ra?” 

“Aku telah berpikir berkali-kali bahwa menciptakan keributan mungkin akan menyenangkan.” 

Perempuan itu terkekeh. Suaranya kering dan rapuh. Lon berpikir untuk mengajaknya pulang. Tetapi tentu saja Era menolak. Tidak, Lon. Aku mengajakmu ke sini untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaanku. 

Seperti ada batas yang tak terlihat semacam tembok tinggi yang memisahkan antara sepasang mata Era dengan keinginannya memandang Prima dengan tatapan yang penuh kebijaksanaan sebagai bawahan yang selayaknya menghargai dan menghormati atasannya. Ia tidak tahu. 

“Kau tak seharusnya memikirkan hal simpel semacam itu secara serius. Itu bukan masalah yang besar. Bukankah hubunganmu dengan semua rekan kantor selama ini baik-baik saja? Artinya tidak ada yang salah apa pun dengan dirimu atau apa pun. Mari kita pulang dan selesaikan pertanyaanmu cukup sampai di sini. Di kafe ini. Disaksikan lampu-lampu, juga bintang-bintang di langit.” 

Tentu saja hal itu merupakan masalah yang besar. Komunikasi yang terjalin antara Era dengan Prima tidak terjadi secara kontinyu dan itu tidak terlalu baik untuk posisi mereka sebagai dua orang yang berada di sebuah kapal yang sama. Sebab keengganan itulah, keinginan Era hanyalah lari dan lari dan lari dari Prima. Tapi ia tidak bisa pergi begitu saja. 

Sebuah lagu dimainkan oleh salah satu band lokal yang sedang melakukan tour pertunjukan dari kafe satu ke kafe lainnya. Suasanya semakin hanyut dan dalam untuk memikirkan banyak pertanyaan. Sekali lagi Era memesan jus stroberi, sementara Lon memilih air putih agar perasaannya kembali netral. Seperti air putih yang tidak memihak rasa asam atau manis atau rasa yang lain. 

Tiba-tiba Era seperti merasakan suatu kebencian yang entah, dan pertanyaan-pertanyaan semakin berebut untuk masuk. Seperti penumpang kereta yang berdesakan, sementara waktu terus melaju menuju labuh. Malam dan malam, dan semakin malam.(*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar