28 Januari 2014

Lomba Menulis Cerpen Nasional Tingkat Mahasiswa DL 16 April 2014


RAMAYA

Cerpen Fina Lanahdiana (Pikiran Rakyat, 26 Januari 2014)

            Sebenarnya aku tidak menyarankanmu membaca cerita ini, mungkin bagimu tidak penting. Tapi aku ingin sekali bercerita, aku tidak peduli apakah cerita ini akan mendapatkan pambaca atau tidak. Ini adalah kisah seorang gadis cermin yang anggun dan jelita, namun ia begitu pendiam dan memancarkan air mata.
Seorang gadis sedang duduk di beranda rumahnya. Ia gemar sekali melahap senja di  setiap hari saat matahari berangsur turun ditelan bumi. Di matanya tidak ada apa-apa. Hanya bulatan hitam seperti mata manusia pada umumnya. Namun tidak, matanya seperti alat pemutar film yang menceritakan banyak kisah. Hanya dengan matanya ia bicara, mirip sekali dengan lensa kamera.
            Aku tidak terlalu mengenalnya. Memang benar ia salah seorang tetanggaku, rumah kami haya berjarak tiga petak rumah saja. Tapi seperti yang kubilang, ia hanya berbicara dengan matanya, sehingga aku hampir tak pernah menanyakan banyak hal tentangnya, karena aku memang tidak bisa berbicara dengan mata seperti yang ia lakukan atau aku akan lebih memilih melupakan banyak hal di dalam kepalaku.
            Singkat cerita, gadis itu bernama Ramaya. Ia cantik dengan bola mata indah yang pandai memutar cerita, kulitnya putih mengkilat, tempurung kepalanya ditumbuhi rambut lurus yang menjuntai sepanjang pinggul. Aku seringkali mengamatinya diam-diam saat ia begitu lahapnya menikmati senja. Sungguh, demikian setiap hari yang ia lakukan. Barangkali ia lapar serupa orang yang berhari-hari melupakan makan. Selalu, setiap menjelang senja ia akan duduk menghadap ke arah matahari yang semakin angslup.
Cahaya jingga berjatuhan di wajahnya, ia semakin keemasan, matanya menyala-nyala, kemudian begitu mahirnya merangkai dan memutar cerita. Ia tertawa, bahagia, bersedih, menangis. Aku seperti sedang menyaksikan adegan televisi yang dipenuhi dengan cerita orang-orang yang ingin cepat menjadi kaya, menjadi seorang putri yang dinikahi oleh pangeran impiannya, atau bahkan kisah anak jalanan yang bermimpi mempunyai keluarga baru. Setiap hari demikian aku menyaksikannya diam-diam, dari jarak sekian meter di belakangnya aku ikut tertawa, menangis, bahagia, sedih, ataupun marah-marah. Hm, aku merasakan diriku ada di dalam matanya--meskipun aku sama sekali tidak memahaminya--atau mungkin hatinya?
            Terkadang ia menengok ke belakang, seolah sengaja ingin melihat siapa-siapa saja yang tengah melihatnya menikmati senja. Tiba-tiba saja aku menjadi begitu gugup, aku tak ingin dirinya tahu aku sedang memperhatikannya diam-diam, mencuri cerita-ceritanya. Jika sudah demikian, aku akan diam dan berharap ia segera mengalihkan pandangannya ke depan, sehingga ia tak pernah tahu aku sedang mengawasinya.
            Aku masih ingat betul, dulu kampung kami dibuat gaduh oleh berita kelahirannya. Tidak banyak yang aneh sebenarnya, ia serupa dengan bayi-bayi perempuan pada umumnya dengan anggota badan yang utuh. Hanya saja di dekat matanya seperti ada tombol yang kapanpun bisa memancarkan mata air--atau mungkin air mata. Di dadanya ada sebuah cermin datar yang pada waktu tertentu terlihat begitu transparan, menyerupai kaca yang semakin lama semakin menipis dan mudah sekali menjadi pecahan-pecahan. Jika sudah seperti itu, kami tak berani mendekatinya. Pecahan kaca itu tajam dan sewaktu-waktu bisa melukai tubuh kami yang manusia.
            Ibunya tak banyak bicara sejak melahirkan gadis itu. Ia memperlakukan anak satu-satunya itu dengan buaian kasih sayang. Sesekali ibunya memperdengarkan cerita untuknya agar ia tak perlu banyak bertanya di mana ayahnya yang tak pernah ingin mengenalnya atau ia akan pecah dan kepingan-kepingan tubuhnya terburai, kemudian ia akan menampung air dari tubuhnya sendiri. Bahkan sampai kini saat Ramaya tumbuh menjadi gadis dewasa, ibunya masih saja gemar bercerita perihal dongeng Sangkuriang yang berhasil membunuh ayahnya sendiri, yang kemudian lepas dari kutukan sebagai anjing agar perempuan itu tak melulu bertanya dimana ayahnya. Ibunya ingin ia menganggap bahwa ayahnya itu adalah si Tumang anjing yang pergi entah kemana.
            “Terkutuklah kau sebagai laki-laki yang tidak mengurus anakmu untuk menjadikan dirimu sebagai seorang Ayah! Kau bahkan sama saja membiarkan anakmu kelak menjadi sebuah cermin datar yang mudah pecah dan sia-sia.” Demikian kalimat yang meluncur tajam dari mulut seorang perempuan yang kini menjadi ibu Ramaya
***
            Ramaya memang banyak diam. Ia menghabiskan jam dinding di rumahnya hanya untuk melamun dan tak melakukan apa-apa. Sepanjang hari ibunya tetap melapangkan dadanya untuk menampung pecahan-pecahan kaca.
            Pada suatu hari yang sunyi aku kembali melihat gadis itu, ia tampak menunggu entah siapa. Tangannya sibuk memukul-mukulkan bambu kering sebesar pergelangan lengannya ke atas tanah, ia dihujani kecemasan. Namun ia tak segera masuk ke dalam rumah.
            Aku masih memperhatikannya, tak lama ia dihampiri seorang pemuda tampan di teras rumahnya. Ia segera mengajak tamunya itu untuk sekadar duduk menikmati secangkir teh.
            “Kau haus, kan?” Gadis itu memulai percakapan.
            Hei, bahkan aku salah, gadis itu juga masih manusia. Ia bukan lensa kamera yang bercerita dengan matanya, maksudku ia kamera yang juga mengeluarkan suara--semacam televisi mungkin.
            Tak lama pemuda itu mengulurkan tangannya di atas meja, barangkali ia berharap gadis itu juga membalas uluran tangannya. Namun ternyata tidak, perempuan itu mendekatkan secangkir teh tepat di depan si pemuda.
            “Terima kasih, Ramaya. Aku Bagus,”
            “Ya, aku sudah tahu. Bukankah kita memang sudah pernah kenal sebelum ini?”
            “Entahlah, aku tak terlalu ingat, mungkin iya,” Pemuda di hadapan Ramaya itu tampak berpikir, “Ah, aku ingat! Kita bertemu di sebuah pasar saat Minggu sore kau tengah menunggu ibumu untuk berbelanja, ah ya itu dia,”
            “Haha, kau lucu.”
            Mereka tertawa bersama-sama.
            Aku semakin mendekati mereka berdua: Ramaya dan pemuda itu. Mereka begitu dekat dan hangat. Sementara ibu Ramaya tengah menyiapkan aneka macam menu makan siang di atas meja untuk mereka santap bersama-sama—tersedia tempe goreng, sambel, nasi hangat, lalapan, ikan gurami, dan perkedel kentang yang diletakkan di atas cobek dengan alas daun pisang.    Ibunya tak keberatan pemuda itu semakin gemar mendatangi rumahnya, bukan untuk menemuinya tapi untuk menemui anaknya.
            Setiap pemuda itu ingin mengajak anak gadisnya keluar rumah, ibunya tak pernah marah. Ia tak banyak bertanya hendak kemana kaki anaknya itu akan dibawa, yang ia tahu anaknya diajak kencan dengan alasan jalan-jalan cari angin di luar rumah.
            Aroma sawah begitu kental tercium olehku, juga angin sepoi-sepoi yang hijaunya mengalahkan hamparan tanaman padi. Sesekali mereka saling berkejaran di jalan setapak yang lekuk oleh hujan yang mengguyur semalaman. Kemudian akan segera merebahkan punggung yang lelah pada sebuah gubuk kecil yang sederhana—terletak di tengah-tengah hamparan sawah yang tampak subur.
            Namun rupanya itu semua hanya sebentar saja. Pemuda itu menghilang dengan tiba-tiba. Gadis itu kembali merenung di beranda rumahnya. Ia seperti layang-layang yang kehilangan arah mata angin. Matanya kembali bercerita sebagai lensa kamera, tatapan matanya kembali kosong dan tak ada apa-apa. Kisah yang ia ceritakan semakin membuat dirinya kembali pecah berulangkali, cermin kaca di dadanya semakin jatuh berkeping.
            Ibunya masih tak bisa berbuat banyak, ia hanya sering menawarkan makan untuk anak gadisnya itu, tapi anaknya semakin pecah, semakin panas, semakin leleh oleh ingatan-ingatan. Sesekali ibunya juga menawarkan lem untuk merekatkan kembali dadanya yang menjadi barang pecah belah yang berserakan di lantai. Namun ia sering menolaknya, dan ingin membiarkan dirinya yang cermin itu tetap pecah tanpa peduli apa yang akan dikatakan tetangganya--yang kutahu di belakangnya, ia dibicarakan banyak ibu-ibu arisan yang menunggu nasib mereka pada sebuah kertas dalam sedotan.
            Bahkan ia masih berharap pemuda itu datang memunguti dirinya yang berserakan di lantai, menyapu beling yang tidak terpakai untuk kemudian dijual kepada pemasok yang nantinya akan dijadikan sebagai mozaik souvenir pernikahan yang cantik.
            Namun rupanya pemuda itu tak pernah datang, entah apakah ia juga dikutuk menjadi anjing seperti ayahnya yang diceritakan ibunya setiap kali mulai mendongeng--agar ia segera lupa dan menganggap ayahnya tak pernah ada, sebab ia telah menjelma seekor anjing yang tidak lebih baik daripada manusia yang katanya diciptakan sempurna oleh Tuhan.
            Gadis itu tak pernah bermimpi menjadi tokoh cinderella dalam dongeng yang memiliki saudara dan ibu tiri yang jahat, sebab ia memang bukan saudara tiri ataupun anak tiri dari siapapun—kemudian didatangi seorang peri yang membuatkannya gaun yang indah untuk menghadiri pesta seorang pangeran. Karena ia telah memiliki ibu yang tabah merawatnya sebagai gadis cermin yang bercahaya. Meskipun mudah patah namun ia masih bisa bermanfaat bagi siapa saja yang ada di sekelilingnya, meski ia seringkali merasa percuma dan sia-sia.
***
Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, semakin banyak yang percaya bahwa Ramaya yang kini beranjak dewasa itu bukanlah sekedar gadis cermin yang sia-sia dan mudah memelihara luka. Orang-orang bertandang ke rumahnya, mereka percaya air yang mengalir dari matanya itu bisa menyembuhkan berbagai macam luka, bahkan ada yang terang-terangan meminta pecahan kaca di tubuhnya untuk kemudian dijadikan alat penampung luka. Banyak yang sudah membuktikan, sehingga orang-orang di kampungku tidak perlu lagi obat-obatan atau jarum suntik untuk menyembuhkan luka. Mereka hanya perlu meminjam pecahan kaca di dada Ramaya untuk menampung ukiran-ukiran luka, kemudian, mereka akan sembuh dan seketika melupakannya.
Ya, begitulah gadis cermin yang sewaktu-waktu tetap menjadi belahan-belahan kaca agar orang-orang di sekitarnya segera melupakan air mata. Ia menyimpan kesedihan-kesedihan pada pecahan kaca yang dipunguti orang-orang. Ia mulai percaya kebahagiaan.

Desember, 2013

6 Desember 2013

Di Luar Jendela (Suara Merdeka, 1 Desember 2013)

Cerpen Fina Lanahdiana (Suara Merdeka, 1 Desember 2013)


Epaper - Suara Merdeka

Aku terdampar. Kepalaku terjepit--terbenam ke dalam sebuah benda. Benda ini tipis, keras dan memiliki daya hisap yang sangat kuat. Bagaimana tidak, kepala saja bisa terperangkap dengan mudahnya. Sial! Mulutku mengumpat.
Aku jadi mengingat mesin penghisap debu yang biasa digunakan pembantuku untuk membersihkan rumah. Ya, tentu saja aku mempunyai pembantu. Anak-anakku ada tiga, sementara istriku sibuk dengan jamnya sendiri.
Dulu sekali , sekitar lima belas tahun yang lalu aku menikah dengan seorang perempuan penyuka aroma kopi. Aku tak tahu benar apa yang membuatnya tergila-gila dengan kopi. Tapi dia pernah sedikit bercerita kepadaku, bahwa harum kopi yang asapnya masih mengepul itu bisa membawanya ringan, melayang-layang, terbang bebas seperti kapas yang diterbangkan angin. Bebas. Begitulah mungkin yang menyebabkannya lebvih suka menikmati dunianya sendiri.
Tidak lama, tiga bulan kemudian istriku hamil dan melahirkan anak pertama. Berjarak dua tahun saja kami kembali dianugerahi dua anak sekaligus yang juga kembar. Lalu kami kebingungan, istriku menyarankan untuk mencari pembantu.
“Kita hanya perlu membayar mereka, Pa. semuanya akan beres,” katanya di sela percakapan kami.
“Tapi …”
“Aku sudah membeli alat penghisap debu yang mahal dan berkualitas baik. Tenang, semua akan baik-baik saja. Rumah kita akan selalu bersih.”
Kembali lagi ke cerita awal. Pelan-pelan seluruh tubuhku terhisap, bergerak dengan cepat seperti meteor yang melintasi bumi.
Kautahu debu, kan? Ia hanya sekumpulan partikel kecil yang mengganggu. Memang sudah sepantasnya dituntaskan. Tapi aku? Ah, entahlah tapi aku bukan debu. Aku terhisap ke dalam sebuah buku.
***
Aku berjalan di sebuah jam dinding. Hei, aku berada di sebuah ruangan yang dipenuhi cahaya. Disana ada sepasang meja kursi yang tampak begitu sibuk. Seseorang sedang serius memegangi kepalanya dengan tangan kiri. Tangan kanannya menjepit pulpen diantara jari-jari. Aku terkesiap.
Aku melihatnya. Dia yang pernah aku kenal, dia yang ada di beberapa koleksi perpustakaan pribadiku. Aku masih berdiri dan terus memandanginya, sementara pria itu belum juga menyadari kehadiranku yang tiba-tiba.
“Permisi, Pak.”
“Hei, Mario. Masuklah! Kau akan banyak menghabiskan energimu jika tetap berdiri disana.”
Kau dengar, kan. Pria itu mengetahui namaku. Ah, mungkin saja telingaku salah.
“Bolehkah aku bertanya?”
“Tentu saja, bertanyalah!”
“Ini tempat apa? Aku dimana?”
Pria yang tampak sudah tidak lagi berusia muda itu malah tertawa, aku semakin bingung.
“Kau kenapa? Apa yang terjadi?”
Aku merasa bodoh dan lucu mendengar pertanyaannya.
“Tentu saja aku ada di … mana?” aku mengulanginya sekali lagi dengan tergesa.
“Kau benar-benar lupa?”
“Ya, mungkin. Dan kau, aku seperti pernah mengenalmu, tapi tidak disini.”
Pria itu tertawa sekali lagi.
“Tentu saja kau mengenalku, Mario,” Ia menyebut namaku sekali lagi, “duduklah dulu!” ia masih saja mencoret-coret kertas yang ada di hadapannya. Lumayan menumpuk.
Aku menyeret kakiku ke arahnya, kemudian duduk di salah satu kursi kosong yang ada di hadapannya. Pria itu berulang membetulkan dasi kupu-kupunya.
“Sudah ingat?” aku hanya menggelengkan kepala.
“Kau Thomas Alva Edison. Aku mengoleksi banyak buku tentangmu. Tapi bagaimana kau bisa tahu namaku? Dan bukankah Anda sudah …”
“Bagaimana hasil ujianmu?” ia tidak menjawab pertanyaanku.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ini konyol sekali. Aku yakin ini pasti mimpi. Kutampar pipiku, dan ini sakit. Tidak seperti mimpi.  Aku seperti orang gila yang belum sembuh dari amnesia dipenuhi dengan tanda tanya besar melebihi ukuran kepalaku.
Suasana hening. Mataku berputar mengelilingi ruangan. Ini terlihat seperti sebuah laboratorium kimia dengan segala perlengkapannya.
“Tiga hari berada di perpustakaan membuatmu melupakan banyak hal. Ajaib, betapa buku-buku itu penuh dngan kekuatan magis,” timpalnya.
“Pak …” ia sedikit meluruskan pandangannya ke arahku. Matanya tampak seperti tengah menyelidik, “bagaimana mungkin aku ada di perpustakaan? Sebelum ini aku ada di rumah, dan tiba-tiba aku sudah ada di tempat ini. Aku terhisap ke dalam buku.”
“Kau mendapat hukuman untuk mencari referensi di perpustakaan karena kau tertangkap sedang menyontek saat ujian bersama beberapa temanmu.”
Aku tidak terlalu yakin menyimpulkan bahwa diriku adalah muridnya. Bahkan aku tak pernah tahu ia pernah menjadi guru, dosen, ataupun tenaga pengajar lain di buku sejarah biografi tentangnya. Atau mungkin aku yang lupa. Ah!.
“Lalu istri dan anak-anakku?”
 Pria itu menghentikan tangannya menulis pada helai-helai kertas di atas meja kerjanya.
“Kau pemimpi.”
“Mimpi apa?”
“Memiliki istri dan anak.”
“Tidak, aku sungguh-sungguh. Tadi aku di rumah, menyaksikan istriku berangkat kerja, juga anak-anakku pergi ke sekolah.”
“Kau penghayal yang baik,” pria itu tergelak sekali lagi.
“Aku tidak bohong!”
“Ah, sudahlah. Kerjakan tugasmu. Sampaikan juga pada teman-temanmu. Aku tunggu sampai besok,”
“Baiklah. Sekarang aku sudah boleh keluar?”
“Silakan.”
***
            Aku berjalan ke arah pintu masih dalam keadaan bingung. Seseorang hampir saja menabrakku. Ia seorang wanita bertubuh tinggi dan kurus. Matanya agak sipit, rambutnya cokelat sebahu dengan belahan sebelah kiri. Dari gaya dia bicara, kami seperti sudah akrab.
            “Bagaimana, Mario?”
            “Apa?”
            “Tugas.”
           “Membaca dan merangkumnya. Setelah itu kau diminta merancang sesuatu untuk sebuah percobaan.”
            “Hanya itu?”
            “Kau bilang hanya?”
        “Haha. Aku tidak sungguh-sungguh. Itu bahkan tugas yang rumit untuk mahasiswa tahun pertama seperti kita.”
            “Sudah?”
            “Mau kemana?”
            “Entahlah.”
            “Kau bodoh sekali.”
            Wanita itu tertawa seperti yang dilakukan pria yang kukira mirip ilmuwan dalam beberapa buku koleksiku, Thomas Alva Edison.
            “June …”
            Wanita itu memanjangkan lehernya ke depan—ke arahku. Matanya bulat, hanya beberapa inci dari wajahku. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menyebut kata itu. Nama wanita itu June.
            “Kau mencintaiku?” June seperti sedang meledekku.
            “Tidak. Aku sudah punya anak dan istri,”
            “Kau gila.”
            Aku hanya mengedikkan bahu kemudian berlalu meninggalkan wanita—yang mulutku memanggilnya June— tiba-tiba suaranya kencang sekali memekikkan telingaku.
            “Nanti kita bertemu di kereta!”
            Aku masih memacu langkah tanpa benar-benar tahu apa yang dikatakan June. Hei, kereta? Untuk apa?
***
            Setengah jam berlalu, aku berjalan menyusuri lorong-lorong gedung ini. Gedung yang tampak raksasa jika dibandingkan dengan rumahku yang biasa-biasa saja; hanya memiliki halaman seluas 144 meter persegi dengan sedikit pepohonan dan bangku hingga berbentuk menyerupai taman. Tidak ada siapa-siapa di koridor panjang gedung ini. Suara sepatu seperti melayang-layang di belakang telinga.
            Tiba di stasiun, mataku berjalan ke segala arah. Aku menunggu seseorang. Ya, seorang wanita yang kupanggil June.
            Di depan pintu sebuah kereta, aku melihat June melambaikan tangannya. Kepalanya menyembul, tangannya yang lain menggantung di langit-langit gerbong.
            Aku telah berada di atas kereta yang kini sedang berjalan dari Port Huron ke Detroit, duduk berhadapan dengan June.
            “Untuk apa kau membawaku kesini?”
            “Nanti kau akan tahu,”
“Kau tidak sedang ingin memaksaku untuk menikah, kan?” aku meledek June.
            June memukul kepalaku menggunakan gulungan kertas tugasnya. Kemudian ia menyerahkan tumpukan surat kabar Week Herald ke tanganku.
            “Kita akan menjual ini,”
            “Di kereta?”
            “Iya.”
       Tiba-tiba terdengar suara ledakan sangat keras. Jantungku seperti hendak melompat keluar dari tubuhku.
            “Kau dengar itu, June?”
            “Ya, sesuatu pasti sedang terjadi.”
          Kami menelusuri gerbong, mencari arah suara ledakan yang mengerikan itu. Kami bertemu dengan seorang kondektur, ia mengabarkan ada seorang pria yang terlempar dari kereta, tepat di Smiths Creek, Michigan ini karena gagal melakukan percobaan kimianya. Kondektur itu juga menambahkan, pria itu tidak boleh lagi melakukan eksperimen dalam kereta. Dan kukira pria yang malang itu pasti sudah mati.
***
            Sepersekian detik berikutnya aku terjatuh begitu saja di ruang tengah—menerobos sebuah jendela. Istriku kaget dan segera menghampiriku. Hebatnya tubuhku tidak terluka sedikitpun, padahal kaca jendela berserakan di lantai.
            “Darimana saja tiga hari ini, Pa?”
            “Kau bercanda, sayang. Aku tidak kemana-mana.”
            Aku bangkit dari posisi tubuh yang tersungkur, kemudian bergabung bersama istri dan anak-anakku menyantap sarapan di meja makan dengan menu omelet bertabur keju, roti tawar dengan olesan selai kacang, dan segelas susu segar hangat yang disiapkan oleh pembantuku—tanpa mandi terlebih dahulu.
            Terdengar ketukan pintu, istriku berjalan keluar untuk mengetahui tamu yang berkunjung sepagi ini. Pembantuku masih sibuk.
            “Saya ingin bertemu Mario.”
            Suara serak seorang pria tua menyapa dengan sopan. Ia melongokkan kepala dari seberang sebuah jendela tanpa kaca.
            Istriku segera membuka pintu dan menyuruhku untuk menemuinya.
            “Seperti yang kubilang, kau penghayal yang baik, Mario.”
        Mulutku membentuk lingkaran menyerupai huruf ’o’—pria yang kukira sudah mati itu kini sedang berkunjung ke rumahku.


Oktober, 2013

14 November 2013

Obituari

 
Pixabay - Gerd Altmann

 
 –siapa yang tahu waktu, apakah ia akan tetap berputar dua puluh empat jam ke depan?
 
Berikut adalah puisi yang saya tulis untuk mengenang salah seorang teman. Saya belum pernah bertemu dengannya. Tapi entah, saya ingin sekali menulis untuknya.

RANTAU
:Kus Calvin

barangkali kepergian adalah rantau paling angin;
lesap seperti tajam hujan yang mengetuk-ngetuk  jendela kamar
lalu senyap menyisakan jejak-jejak dari masa lampau,
berputar melingkari segala penjuru arah—yang dinamakan cita-cinta
lantas tidak ada apa-apa yang tersisa

kini kakimu telah jauh melewati batas
dari segala macam kapal-kapal yang berlayar

laut mengental serupa kabut yang menggantung di langit-langit
bagi sebuah bising yang tiba-tiba asing
keriuhan yang tidak ada alasan untuk membantahnya

angin lupa mengemas hari untuk masa depan
meski hanya sebatas putaran dua puluh empat jam saja
ketiadaan ini bukankah memang begitu pendiam,?

Kendal, 12.11.13

5 November 2013

Puisi M Aan Mansyur

Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita

1. Kunang-kunang Merah

yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit

dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita

tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?

mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang


2. Manusia Tebing

yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke dalam tebing, seolah mengorbankan diri

dan kita mengapung di permukaan jejak mereka yang mengepung
—di sini

kita berkesedihan, berkesedihan, berkesedihan tidak berkesudahan
terpaksa tersiksa merindukan dan mereka-reka kapan mereka
datang menipu kita sekali dan sekali lagi.

mereka butuh tubuh yang terjatuh ke dalam tebing sendiri
untuk hidup. berkali-kali. kita betah dan tabah menyadari
kesedihan hanya reda oleh kesedihan yang berulang kali.

sepanjang kala.


3. Airmata Mati

yang berjatuhan dan tak bisa kembali ke langit mereka:
airmata yang tiba-tiba mati dan tinggal dalam ingatan

berwaktu-waktu mengasuh dan mengasah diri
menunggu hingga alir airnya menggelombang
dan busa-busanya menggelembung

lalu kelak dengan mudah bisa menelan habis kita

dan kini apa yang mampu dielakkan
oleh kita kecuali kata-kata?


4. Jalan Melempang dan Melengang

tak ada lekuk liku dan yang menyimpang atau turun
dan mendaki yang bisa menyembunyikan kita
—pelangkah-pelangkah takut yang mencari suaka

jalan itu terus melebar ke mana-mana,
dan membawa kita tidak ke mana-mana
selain ke tempat berangkat—selalu ke semula

jalan itu tak menyimpan ujung dan tujuan
kita tersesat di kerataan yang maha lapang
menjadi kecil, lebih kecil dari yang lebih kecil dari debu,
di telapak tangannya

lalu kita telah menjadi yang paling panik dan renik
yang akan remuk dalam lengan-lengan lengangnya

memang kita belum mati,
hanya lebih tersiksa dari hidup
dan tersiksa mengharap tidak hidup


5. Kitab-Kitab Penyesat

memiliki warna-warni lembut dan sejuk
seperti bayang-bayang yang menghalau kemarau
dan orang terhindar dari terbunuh dahaga

kita memasuki halaman-halaman
dan mengetuk pintu-pintu mereka

bermimpi tidur di pelukan kata-kata
dan kalimat mereka—yang rupanya
muslihat

apa? dengan sakit kita mendatangi apotik
yang menjual rupa-rupa racun

o, kita sendiri yang mengetuk
untuk masuk mengambil kutuk!


6. Rimba Suara

kita dulu memang mencintai tumbuh-tumbuhan
nenek moyang kita paling petani. rahim subur
yang melahirkan kita ialah tanah-tanah gembur

namun apa yang ingin kita buat hijau kini?

lalu muncullah mereka, suara-suara itu,
yang mula-mula sembunyi di mulut kita sendiri
yang malu-malu menyebut diri kawan
tapi enggan pula menyebut diri lawan

kita tidak sedang membangun surga dengan rimba
lalu ada buah-buahan yang menyelamatkan
dan mengirimkan kita ke bumi yang kosong
dan kita mulai bisa menggarap hidup

rupanya kita menimbun diri sendiri di rimbun
suara-suara yang hutan itu—yang kuat
melampaui daya hantu tuhan-tuhan


7. Bayangan-Bayangan Kita

bukan bayangan yang hitam tanpa cahaya mata
bukan makhluk yang mati tanpa kita

mereka sekawanan yang menyerupai kita
dengan pikiran yang membolak-balik
pengetahuan kita

kita berpikir telah melahirkan mereka,
mereka berpikir kita anak-anak durhaka
yang meminta hukuman

medan perang adalah cermin
namun mereka lebih gesit bergerak
dan kita mengikutinya—kita menampar
wajah kita ketika mereka menampar wajah kita

kita menangisi diri kita
ketika mereka menertawai kita


8. Hari Pertimbangan

dia, yang menamai diri hari pertimbangan,
mengumpulkan kita dan mengundang
tebing itu, kunang-kunang itu, airmata itu,
jalan-jalan itu, kitab-kitab itu, hutan-hutan itu,
bayangan-bayangan itu

dia menyuguhi kita pertunjukan dan pesta
yang mengandung rasa penasaran

dia membiarkan kita mabuk dan bicara
memperkenalkan diri sebagai tokoh utama—
satu-satunya tokoh yang paling berdaya,
yang paling dianiaya

dia dan tamu-tamunya menertawai dan menghadiahi
kita senjata-senjata dan pilihan untuk bunuh diri
atau meninggalkan cerita ini dengan mengaku
kalah

dan kita melakukan kedua-duanya

Sumber: Kompas