28 Januari 2014
RAMAYA
Cerpen Fina Lanahdiana (Pikiran Rakyat, 26 Januari 2014)
Sebenarnya aku tidak
menyarankanmu membaca cerita ini, mungkin bagimu tidak penting. Tapi aku ingin
sekali bercerita, aku tidak peduli apakah cerita ini akan mendapatkan pambaca
atau tidak. Ini adalah kisah seorang gadis cermin yang anggun dan jelita, namun
ia begitu pendiam dan memancarkan air mata.
Seorang gadis sedang duduk di beranda rumahnya. Ia
gemar sekali melahap senja di setiap
hari saat matahari berangsur turun ditelan bumi. Di matanya tidak ada apa-apa.
Hanya bulatan hitam seperti mata manusia pada umumnya. Namun tidak, matanya
seperti alat pemutar film yang menceritakan banyak kisah. Hanya dengan matanya
ia bicara, mirip sekali dengan lensa kamera.
Aku tidak terlalu
mengenalnya. Memang benar ia salah seorang tetanggaku, rumah kami haya berjarak
tiga petak rumah saja. Tapi seperti yang kubilang, ia hanya berbicara dengan
matanya, sehingga aku hampir tak pernah menanyakan banyak hal tentangnya,
karena aku memang tidak bisa berbicara dengan mata seperti yang ia lakukan atau
aku akan lebih memilih melupakan banyak hal di dalam kepalaku.
Singkat cerita, gadis
itu bernama Ramaya. Ia cantik dengan bola mata indah yang pandai memutar cerita,
kulitnya putih mengkilat, tempurung kepalanya ditumbuhi rambut lurus yang menjuntai
sepanjang pinggul. Aku seringkali mengamatinya diam-diam saat ia begitu
lahapnya menikmati senja. Sungguh, demikian setiap hari yang ia lakukan. Barangkali
ia lapar serupa orang yang berhari-hari melupakan makan. Selalu, setiap
menjelang senja ia akan duduk menghadap ke arah matahari yang semakin angslup.
Cahaya jingga berjatuhan di wajahnya, ia semakin
keemasan, matanya menyala-nyala, kemudian begitu mahirnya merangkai dan memutar
cerita. Ia tertawa, bahagia, bersedih, menangis. Aku seperti sedang menyaksikan
adegan televisi yang dipenuhi dengan cerita orang-orang yang ingin cepat
menjadi kaya, menjadi seorang putri yang dinikahi oleh pangeran impiannya, atau
bahkan kisah anak jalanan yang bermimpi mempunyai keluarga baru. Setiap hari
demikian aku menyaksikannya diam-diam, dari jarak sekian meter di belakangnya
aku ikut tertawa, menangis, bahagia, sedih, ataupun marah-marah. Hm, aku
merasakan diriku ada di dalam matanya--meskipun aku sama sekali tidak
memahaminya--atau mungkin hatinya?
Terkadang ia menengok
ke belakang, seolah sengaja ingin melihat siapa-siapa saja yang tengah
melihatnya menikmati senja. Tiba-tiba saja aku menjadi begitu gugup, aku tak
ingin dirinya tahu aku sedang memperhatikannya diam-diam, mencuri
cerita-ceritanya. Jika sudah demikian, aku akan diam dan berharap ia segera
mengalihkan pandangannya ke depan, sehingga ia tak pernah tahu aku sedang mengawasinya.
Aku masih ingat
betul, dulu kampung kami dibuat gaduh oleh berita kelahirannya. Tidak banyak
yang aneh sebenarnya, ia serupa dengan bayi-bayi perempuan pada umumnya dengan
anggota badan yang utuh. Hanya saja di dekat matanya seperti ada tombol yang
kapanpun bisa memancarkan mata air--atau mungkin air mata. Di dadanya ada
sebuah cermin datar yang pada waktu tertentu terlihat begitu transparan,
menyerupai kaca yang semakin lama semakin menipis dan mudah sekali menjadi
pecahan-pecahan. Jika sudah seperti itu, kami tak berani mendekatinya. Pecahan
kaca itu tajam dan sewaktu-waktu bisa melukai tubuh kami yang manusia.
Ibunya tak banyak
bicara sejak melahirkan gadis itu. Ia memperlakukan anak satu-satunya itu
dengan buaian kasih sayang. Sesekali ibunya memperdengarkan cerita untuknya
agar ia tak perlu banyak bertanya di mana ayahnya yang tak pernah ingin
mengenalnya atau ia akan pecah dan kepingan-kepingan tubuhnya terburai, kemudian
ia akan menampung air dari tubuhnya sendiri. Bahkan sampai kini saat Ramaya
tumbuh menjadi gadis dewasa, ibunya masih saja gemar bercerita perihal dongeng Sangkuriang
yang berhasil membunuh ayahnya sendiri, yang kemudian lepas dari kutukan
sebagai anjing agar perempuan itu tak melulu bertanya dimana ayahnya. Ibunya
ingin ia menganggap bahwa ayahnya itu adalah si Tumang anjing yang pergi entah
kemana.
“Terkutuklah kau
sebagai laki-laki yang tidak mengurus anakmu untuk menjadikan dirimu sebagai
seorang Ayah! Kau bahkan sama saja membiarkan anakmu kelak menjadi sebuah
cermin datar yang mudah pecah dan sia-sia.” Demikian kalimat yang meluncur
tajam dari mulut seorang perempuan yang kini menjadi ibu Ramaya
***
Ramaya memang banyak
diam. Ia menghabiskan jam dinding di rumahnya hanya untuk melamun dan tak melakukan
apa-apa. Sepanjang hari ibunya tetap melapangkan dadanya untuk menampung
pecahan-pecahan kaca.
Pada suatu hari yang
sunyi aku kembali melihat gadis itu, ia tampak menunggu entah siapa. Tangannya
sibuk memukul-mukulkan bambu kering sebesar pergelangan lengannya ke atas
tanah, ia dihujani kecemasan. Namun ia tak segera masuk ke dalam rumah.
Aku masih
memperhatikannya, tak lama ia dihampiri seorang pemuda tampan di teras rumahnya.
Ia segera mengajak tamunya itu untuk sekadar duduk menikmati secangkir teh.
“Kau haus, kan?” Gadis
itu memulai percakapan.
Hei, bahkan aku
salah, gadis itu juga masih manusia. Ia bukan lensa kamera yang bercerita
dengan matanya, maksudku ia kamera yang juga mengeluarkan suara--semacam
televisi mungkin.
Tak lama pemuda itu
mengulurkan tangannya di atas meja, barangkali ia berharap gadis itu juga
membalas uluran tangannya. Namun ternyata tidak, perempuan itu mendekatkan
secangkir teh tepat di depan si pemuda.
“Terima kasih,
Ramaya. Aku Bagus,”
“Ya, aku sudah tahu.
Bukankah kita memang sudah pernah kenal sebelum ini?”
“Entahlah, aku tak
terlalu ingat, mungkin iya,” Pemuda di hadapan Ramaya itu tampak berpikir, “Ah,
aku ingat! Kita bertemu di sebuah pasar saat Minggu sore kau tengah menunggu ibumu
untuk berbelanja, ah ya itu dia,”
“Haha, kau lucu.”
Mereka tertawa
bersama-sama.
Aku semakin mendekati
mereka berdua: Ramaya dan pemuda itu. Mereka begitu dekat dan hangat. Sementara
ibu Ramaya tengah menyiapkan aneka macam menu makan siang di atas meja untuk
mereka santap bersama-sama—tersedia tempe goreng, sambel, nasi hangat, lalapan,
ikan gurami, dan perkedel kentang yang diletakkan di atas cobek dengan alas
daun pisang. Ibunya tak keberatan
pemuda itu semakin gemar mendatangi rumahnya, bukan untuk menemuinya tapi untuk
menemui anaknya.
Setiap pemuda itu
ingin mengajak anak gadisnya keluar rumah, ibunya tak pernah marah. Ia tak
banyak bertanya hendak kemana kaki anaknya itu akan dibawa, yang ia tahu
anaknya diajak kencan dengan alasan jalan-jalan cari angin di luar rumah.
Aroma sawah begitu
kental tercium olehku, juga angin sepoi-sepoi yang hijaunya mengalahkan
hamparan tanaman padi. Sesekali mereka saling berkejaran di jalan setapak yang
lekuk oleh hujan yang mengguyur semalaman. Kemudian akan segera merebahkan
punggung yang lelah pada sebuah gubuk kecil yang sederhana—terletak di
tengah-tengah hamparan sawah yang tampak subur.
Namun rupanya itu
semua hanya sebentar saja. Pemuda itu menghilang dengan tiba-tiba. Gadis itu
kembali merenung di beranda rumahnya. Ia seperti layang-layang yang kehilangan
arah mata angin. Matanya kembali bercerita sebagai lensa kamera, tatapan
matanya kembali kosong dan tak ada apa-apa. Kisah yang ia ceritakan semakin
membuat dirinya kembali pecah berulangkali, cermin kaca di dadanya semakin
jatuh berkeping.
Ibunya masih tak bisa
berbuat banyak, ia hanya sering menawarkan makan untuk anak gadisnya itu, tapi
anaknya semakin pecah, semakin panas, semakin leleh oleh ingatan-ingatan.
Sesekali ibunya juga menawarkan lem untuk merekatkan kembali dadanya yang
menjadi barang pecah belah yang berserakan di lantai. Namun ia sering menolaknya,
dan ingin membiarkan dirinya yang cermin itu tetap pecah tanpa peduli apa yang
akan dikatakan tetangganya--yang kutahu di belakangnya, ia dibicarakan banyak ibu-ibu
arisan yang menunggu nasib mereka pada sebuah kertas dalam sedotan.
Bahkan ia masih berharap
pemuda itu datang memunguti dirinya yang berserakan di lantai, menyapu beling
yang tidak terpakai untuk kemudian dijual kepada pemasok yang nantinya akan
dijadikan sebagai mozaik souvenir pernikahan yang cantik.
Namun rupanya pemuda
itu tak pernah datang, entah apakah ia juga dikutuk menjadi anjing seperti
ayahnya yang diceritakan ibunya setiap kali mulai mendongeng--agar ia segera
lupa dan menganggap ayahnya tak pernah ada, sebab ia telah menjelma seekor
anjing yang tidak lebih baik daripada manusia yang katanya diciptakan sempurna
oleh Tuhan.
Gadis itu tak pernah
bermimpi menjadi tokoh cinderella dalam dongeng yang memiliki saudara dan
ibu tiri yang jahat, sebab ia memang bukan saudara tiri ataupun anak tiri dari
siapapun—kemudian didatangi seorang peri yang membuatkannya gaun yang indah
untuk menghadiri pesta seorang pangeran. Karena ia telah memiliki ibu yang
tabah merawatnya sebagai gadis cermin yang bercahaya. Meskipun mudah patah namun
ia masih bisa bermanfaat bagi siapa saja yang ada di sekelilingnya, meski ia
seringkali merasa percuma dan sia-sia.
***
Dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun,
semakin banyak yang percaya bahwa Ramaya yang kini beranjak dewasa itu bukanlah
sekedar gadis cermin yang sia-sia dan mudah memelihara luka. Orang-orang
bertandang ke rumahnya, mereka percaya air yang mengalir dari matanya itu bisa
menyembuhkan berbagai macam luka, bahkan ada yang terang-terangan meminta
pecahan kaca di tubuhnya untuk kemudian dijadikan alat penampung luka. Banyak
yang sudah membuktikan, sehingga orang-orang di kampungku tidak perlu lagi
obat-obatan atau jarum suntik untuk menyembuhkan luka. Mereka hanya perlu
meminjam pecahan kaca di dada Ramaya untuk menampung ukiran-ukiran luka,
kemudian, mereka akan sembuh dan seketika melupakannya.
Ya, begitulah gadis cermin yang sewaktu-waktu tetap
menjadi belahan-belahan kaca agar orang-orang di sekitarnya segera melupakan
air mata. Ia menyimpan kesedihan-kesedihan pada pecahan kaca yang dipunguti
orang-orang. Ia mulai percaya kebahagiaan.
Desember, 2013
6 Desember 2013
Di Luar Jendela (Suara Merdeka, 1 Desember 2013)
Cerpen Fina Lanahdiana (Suara Merdeka, 1 Desember 2013)
![]() |
| Epaper - Suara Merdeka |
Aku terdampar. Kepalaku terjepit--terbenam ke dalam sebuah
benda. Benda ini tipis, keras dan memiliki daya hisap yang sangat kuat.
Bagaimana tidak, kepala saja bisa terperangkap dengan mudahnya. Sial! Mulutku mengumpat.
Aku jadi mengingat mesin penghisap debu yang biasa
digunakan pembantuku untuk membersihkan rumah. Ya, tentu saja aku mempunyai
pembantu. Anak-anakku ada tiga, sementara istriku sibuk dengan jamnya sendiri.
Dulu sekali , sekitar lima belas tahun yang lalu aku
menikah dengan seorang perempuan penyuka aroma kopi. Aku tak tahu benar apa
yang membuatnya tergila-gila dengan kopi. Tapi dia pernah sedikit bercerita
kepadaku, bahwa harum kopi yang asapnya masih mengepul itu bisa membawanya
ringan, melayang-layang, terbang bebas seperti kapas yang diterbangkan angin. Bebas.
Begitulah mungkin yang menyebabkannya lebvih suka menikmati dunianya sendiri.
Tidak lama, tiga bulan kemudian istriku hamil dan
melahirkan anak pertama. Berjarak dua tahun saja kami kembali dianugerahi dua
anak sekaligus yang juga kembar. Lalu kami kebingungan, istriku menyarankan
untuk mencari pembantu.
“Kita hanya perlu membayar mereka, Pa. semuanya akan
beres,” katanya di sela percakapan kami.
“Tapi …”
“Aku sudah membeli alat penghisap debu yang mahal dan
berkualitas baik. Tenang, semua akan baik-baik saja. Rumah kita akan selalu
bersih.”
Kembali lagi ke cerita awal. Pelan-pelan seluruh
tubuhku terhisap, bergerak dengan cepat seperti meteor yang melintasi bumi.
Kautahu debu, kan? Ia hanya sekumpulan partikel kecil
yang mengganggu. Memang sudah sepantasnya dituntaskan. Tapi aku? Ah, entahlah
tapi aku bukan debu. Aku terhisap ke dalam sebuah buku.
***
Aku berjalan di sebuah jam dinding. Hei, aku berada di
sebuah ruangan yang dipenuhi cahaya. Disana ada sepasang meja kursi yang tampak
begitu sibuk. Seseorang sedang serius memegangi kepalanya dengan tangan kiri.
Tangan kanannya menjepit pulpen diantara jari-jari. Aku terkesiap.
Aku melihatnya. Dia yang pernah aku kenal, dia yang
ada di beberapa koleksi perpustakaan pribadiku. Aku masih berdiri dan terus
memandanginya, sementara pria itu belum juga menyadari kehadiranku yang
tiba-tiba.
“Permisi, Pak.”
“Hei, Mario. Masuklah! Kau akan banyak menghabiskan
energimu jika tetap berdiri disana.”
Kau dengar, kan. Pria itu mengetahui namaku. Ah, mungkin saja
telingaku salah.
“Bolehkah aku bertanya?”
“Tentu saja, bertanyalah!”
“Ini tempat apa? Aku dimana?”
Pria yang tampak sudah tidak lagi berusia muda itu
malah tertawa, aku semakin bingung.
“Kau kenapa? Apa yang terjadi?”
Aku merasa bodoh dan lucu mendengar pertanyaannya.
“Tentu saja aku ada di … mana?” aku mengulanginya
sekali lagi dengan tergesa.
“Kau benar-benar lupa?”
“Ya, mungkin. Dan kau, aku seperti pernah mengenalmu,
tapi tidak disini.”
Pria itu tertawa sekali lagi.
“Tentu saja kau mengenalku, Mario,” Ia menyebut namaku
sekali lagi, “duduklah dulu!” ia masih saja mencoret-coret kertas yang ada di
hadapannya. Lumayan menumpuk.
Aku menyeret kakiku ke arahnya, kemudian duduk di
salah satu kursi kosong yang ada di hadapannya. Pria itu berulang membetulkan
dasi kupu-kupunya.
“Sudah ingat?” aku hanya menggelengkan kepala.
“Kau Thomas Alva Edison. Aku mengoleksi banyak buku
tentangmu. Tapi bagaimana kau bisa tahu namaku? Dan bukankah Anda sudah …”
“Bagaimana hasil ujianmu?” ia tidak menjawab
pertanyaanku.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ini konyol sekali.
Aku yakin ini pasti mimpi. Kutampar pipiku, dan ini sakit. Tidak seperti
mimpi. Aku seperti orang gila yang belum
sembuh dari amnesia dipenuhi dengan tanda tanya besar melebihi ukuran kepalaku.
Suasana hening. Mataku berputar mengelilingi ruangan.
Ini terlihat seperti sebuah laboratorium kimia dengan segala perlengkapannya.
“Tiga hari berada di perpustakaan membuatmu melupakan
banyak hal. Ajaib, betapa buku-buku itu penuh dngan kekuatan magis,” timpalnya.
“Pak …” ia sedikit meluruskan pandangannya ke arahku.
Matanya tampak seperti tengah menyelidik, “bagaimana mungkin aku ada di
perpustakaan? Sebelum ini aku ada di rumah, dan tiba-tiba aku sudah ada di
tempat ini. Aku terhisap ke dalam buku.”
“Kau mendapat hukuman untuk mencari referensi di
perpustakaan karena kau tertangkap sedang menyontek saat ujian bersama beberapa
temanmu.”
Aku tidak terlalu yakin menyimpulkan bahwa diriku
adalah muridnya. Bahkan aku tak pernah tahu ia pernah menjadi guru, dosen,
ataupun tenaga pengajar lain di buku sejarah biografi tentangnya. Atau mungkin
aku yang lupa. Ah!.
“Lalu istri dan anak-anakku?”
Pria itu menghentikan tangannya menulis pada
helai-helai kertas di atas meja kerjanya.
“Kau pemimpi.”
“Mimpi apa?”
“Memiliki istri dan anak.”
“Tidak, aku sungguh-sungguh. Tadi aku di rumah,
menyaksikan istriku berangkat kerja, juga anak-anakku pergi ke sekolah.”
“Kau penghayal yang baik,” pria itu tergelak sekali
lagi.
“Aku tidak bohong!”
“Ah, sudahlah. Kerjakan tugasmu. Sampaikan juga pada
teman-temanmu. Aku tunggu sampai besok,”
“Baiklah. Sekarang aku sudah boleh keluar?”
“Silakan.”
***
Aku berjalan
ke arah pintu masih dalam keadaan bingung. Seseorang hampir saja menabrakku. Ia
seorang wanita bertubuh tinggi dan kurus. Matanya agak sipit, rambutnya cokelat
sebahu dengan belahan sebelah kiri. Dari gaya dia bicara, kami seperti sudah
akrab.
“Bagaimana,
Mario?”
“Apa?”
“Tugas.”
“Membaca dan
merangkumnya. Setelah itu kau diminta merancang sesuatu untuk sebuah percobaan.”
“Hanya itu?”
“Kau bilang
hanya?”
“Haha. Aku tidak
sungguh-sungguh. Itu bahkan tugas yang rumit untuk mahasiswa tahun pertama
seperti kita.”
“Sudah?”
“Mau
kemana?”
“Entahlah.”
“Kau bodoh
sekali.”
Wanita itu
tertawa seperti yang dilakukan pria yang kukira mirip ilmuwan dalam beberapa
buku koleksiku, Thomas Alva Edison.
“June …”
Wanita itu memanjangkan
lehernya ke depan—ke arahku. Matanya bulat, hanya beberapa inci dari wajahku.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menyebut kata itu. Nama wanita itu June.
“Kau
mencintaiku?” June seperti sedang meledekku.
“Tidak. Aku
sudah punya anak dan istri,”
“Kau gila.”
Aku hanya
mengedikkan bahu kemudian berlalu meninggalkan wanita—yang mulutku memanggilnya
June— tiba-tiba suaranya kencang sekali memekikkan telingaku.
“Nanti kita
bertemu di kereta!”
Aku masih
memacu langkah tanpa benar-benar tahu apa yang dikatakan June. Hei, kereta?
Untuk apa?
***
Setengah jam
berlalu, aku berjalan menyusuri lorong-lorong gedung ini. Gedung yang tampak
raksasa jika dibandingkan dengan rumahku yang biasa-biasa saja; hanya memiliki
halaman seluas 144 meter persegi dengan sedikit pepohonan dan bangku hingga
berbentuk menyerupai taman. Tidak ada siapa-siapa di koridor panjang gedung ini.
Suara sepatu seperti melayang-layang di belakang telinga.
Tiba di
stasiun, mataku berjalan ke segala arah. Aku menunggu seseorang. Ya, seorang
wanita yang kupanggil June.
Di depan
pintu sebuah kereta, aku melihat June melambaikan tangannya. Kepalanya menyembul,
tangannya yang lain menggantung di langit-langit gerbong.
Aku telah
berada di atas kereta yang kini sedang berjalan dari Port Huron ke Detroit,
duduk berhadapan dengan June.
“Untuk apa
kau membawaku kesini?”
“Nanti kau
akan tahu,”
“Kau tidak sedang ingin memaksaku untuk menikah, kan?”
aku meledek June.
June memukul
kepalaku menggunakan gulungan kertas tugasnya. Kemudian ia menyerahkan tumpukan
surat kabar Week Herald ke tanganku.
“Kita akan
menjual ini,”
“Di kereta?”
“Iya.”
Tiba-tiba
terdengar suara ledakan sangat keras. Jantungku seperti hendak melompat keluar
dari tubuhku.
“Kau dengar
itu, June?”
“Ya, sesuatu
pasti sedang terjadi.”
Kami
menelusuri gerbong, mencari arah suara ledakan yang mengerikan itu. Kami bertemu
dengan seorang kondektur, ia mengabarkan ada seorang pria yang terlempar dari
kereta, tepat di Smiths Creek, Michigan ini karena gagal melakukan percobaan
kimianya. Kondektur itu juga menambahkan, pria itu tidak boleh lagi melakukan
eksperimen dalam kereta. Dan kukira pria yang malang itu pasti sudah mati.
***
Sepersekian
detik berikutnya aku terjatuh begitu saja di ruang tengah—menerobos sebuah
jendela. Istriku kaget dan segera menghampiriku. Hebatnya tubuhku tidak terluka
sedikitpun, padahal kaca jendela berserakan di lantai.
“Darimana saja
tiga hari ini, Pa?”
“Kau
bercanda, sayang. Aku tidak kemana-mana.”
Aku bangkit
dari posisi tubuh yang tersungkur, kemudian bergabung bersama istri dan
anak-anakku menyantap sarapan di meja makan dengan menu omelet bertabur keju,
roti tawar dengan olesan selai kacang, dan segelas susu segar hangat yang
disiapkan oleh pembantuku—tanpa mandi terlebih dahulu.
Terdengar
ketukan pintu, istriku berjalan keluar untuk mengetahui tamu yang berkunjung
sepagi ini. Pembantuku masih sibuk.
“Saya ingin
bertemu Mario.”
Suara serak
seorang pria tua menyapa dengan sopan. Ia melongokkan kepala dari seberang
sebuah jendela tanpa kaca.
Istriku
segera membuka pintu dan menyuruhku untuk menemuinya.
“Seperti
yang kubilang, kau penghayal yang baik, Mario.”
Mulutku
membentuk lingkaran menyerupai huruf ’o’—pria yang kukira sudah mati itu kini
sedang berkunjung ke rumahku.
Oktober, 2013
14 November 2013
Obituari
![]() |
| Pixabay - Gerd Altmann |
–siapa yang tahu waktu, apakah ia
akan tetap berputar dua puluh empat jam ke depan?
Berikut adalah puisi yang
saya tulis untuk mengenang salah seorang teman. Saya belum pernah bertemu
dengannya. Tapi entah, saya ingin sekali menulis untuknya.
RANTAU
:Kus Calvin
:Kus Calvin
barangkali kepergian adalah rantau
paling angin;
lesap seperti tajam hujan yang mengetuk-ngetuk jendela kamar
lesap seperti tajam hujan yang mengetuk-ngetuk jendela kamar
lalu senyap menyisakan jejak-jejak
dari masa lampau,
berputar melingkari segala penjuru arah—yang
dinamakan cita-cinta
lantas tidak ada apa-apa yang tersisa
kini kakimu telah jauh melewati
batas
dari segala macam kapal-kapal yang
berlayar
laut mengental serupa kabut yang menggantung
di langit-langit
bagi sebuah bising yang tiba-tiba
asing
keriuhan yang tidak ada alasan
untuk membantahnya
angin lupa mengemas hari untuk masa
depan
meski hanya sebatas putaran dua
puluh empat jam saja
ketiadaan ini bukankah memang
begitu pendiam,?
Kendal, 12.11.13
5 November 2013
Puisi M Aan Mansyur
Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita
1. Kunang-kunang Merah
yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit
dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita
tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?
mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang
2. Manusia Tebing
yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke dalam tebing, seolah mengorbankan diri
dan kita mengapung di permukaan jejak mereka yang mengepung
—di sini
kita berkesedihan, berkesedihan, berkesedihan tidak berkesudahan
terpaksa tersiksa merindukan dan mereka-reka kapan mereka
datang menipu kita sekali dan sekali lagi.
mereka butuh tubuh yang terjatuh ke dalam tebing sendiri
untuk hidup. berkali-kali. kita betah dan tabah menyadari
kesedihan hanya reda oleh kesedihan yang berulang kali.
sepanjang kala.
3. Airmata Mati
yang berjatuhan dan tak bisa kembali ke langit mereka:
airmata yang tiba-tiba mati dan tinggal dalam ingatan
berwaktu-waktu mengasuh dan mengasah diri
menunggu hingga alir airnya menggelombang
dan busa-busanya menggelembung
lalu kelak dengan mudah bisa menelan habis kita
dan kini apa yang mampu dielakkan
oleh kita kecuali kata-kata?
4. Jalan Melempang dan Melengang
tak ada lekuk liku dan yang menyimpang atau turun
dan mendaki yang bisa menyembunyikan kita
—pelangkah-pelangkah takut yang mencari suaka
jalan itu terus melebar ke mana-mana,
dan membawa kita tidak ke mana-mana
selain ke tempat berangkat—selalu ke semula
jalan itu tak menyimpan ujung dan tujuan
kita tersesat di kerataan yang maha lapang
menjadi kecil, lebih kecil dari yang lebih kecil dari debu,
di telapak tangannya
lalu kita telah menjadi yang paling panik dan renik
yang akan remuk dalam lengan-lengan lengangnya
memang kita belum mati,
hanya lebih tersiksa dari hidup
dan tersiksa mengharap tidak hidup
5. Kitab-Kitab Penyesat
memiliki warna-warni lembut dan sejuk
seperti bayang-bayang yang menghalau kemarau
dan orang terhindar dari terbunuh dahaga
kita memasuki halaman-halaman
dan mengetuk pintu-pintu mereka
bermimpi tidur di pelukan kata-kata
dan kalimat mereka—yang rupanya
muslihat
apa? dengan sakit kita mendatangi apotik
yang menjual rupa-rupa racun
o, kita sendiri yang mengetuk
untuk masuk mengambil kutuk!
6. Rimba Suara
kita dulu memang mencintai tumbuh-tumbuhan
nenek moyang kita paling petani. rahim subur
yang melahirkan kita ialah tanah-tanah gembur
namun apa yang ingin kita buat hijau kini?
lalu muncullah mereka, suara-suara itu,
yang mula-mula sembunyi di mulut kita sendiri
yang malu-malu menyebut diri kawan
tapi enggan pula menyebut diri lawan
kita tidak sedang membangun surga dengan rimba
lalu ada buah-buahan yang menyelamatkan
dan mengirimkan kita ke bumi yang kosong
dan kita mulai bisa menggarap hidup
rupanya kita menimbun diri sendiri di rimbun
suara-suara yang hutan itu—yang kuat
melampaui daya hantu tuhan-tuhan
7. Bayangan-Bayangan Kita
bukan bayangan yang hitam tanpa cahaya mata
bukan makhluk yang mati tanpa kita
mereka sekawanan yang menyerupai kita
dengan pikiran yang membolak-balik
pengetahuan kita
kita berpikir telah melahirkan mereka,
mereka berpikir kita anak-anak durhaka
yang meminta hukuman
medan perang adalah cermin
namun mereka lebih gesit bergerak
dan kita mengikutinya—kita menampar
wajah kita ketika mereka menampar wajah kita
kita menangisi diri kita
ketika mereka menertawai kita
8. Hari Pertimbangan
dia, yang menamai diri hari pertimbangan,
mengumpulkan kita dan mengundang
tebing itu, kunang-kunang itu, airmata itu,
jalan-jalan itu, kitab-kitab itu, hutan-hutan itu,
bayangan-bayangan itu
dia menyuguhi kita pertunjukan dan pesta
yang mengandung rasa penasaran
dia membiarkan kita mabuk dan bicara
memperkenalkan diri sebagai tokoh utama—
satu-satunya tokoh yang paling berdaya,
yang paling dianiaya
dia dan tamu-tamunya menertawai dan menghadiahi
kita senjata-senjata dan pilihan untuk bunuh diri
atau meninggalkan cerita ini dengan mengaku
kalah
dan kita melakukan kedua-duanya
1. Kunang-kunang Merah
yang hidup dari menghirup dendam kuku-kuku
orang-orang raib, penunggang aib atau penanggung alasan gaib—
kuku orang-orang yang pernah kita desak masuk
dan bertumpuk di lubang-lubang kubur sempit
dan kita yang tubuhnya semakin mayat
berharap tumbuh dan bisa mengalahkan nyali
atau mengalihkan nyala mereka menjadi kerlap-kerlip
lampu perayaan di taman kota atau kedap-kedip
genit di sepasang mata kita
tetapi dendam dengan apakah bisa lelap?
mereka memerahkan sekeliling kita yang gelap
dan di dalam tidur, kita menyaksikan warna merekah
jadi darah lalu mencair dari mata hingga ke mati
yang membunuh seorang pahlawan
—cita-cita yang bahkan tak bisa kita kenang
2. Manusia Tebing
yang membawa tebing di tubuh—berbatang-batang tebing.
wajahnya penuh lapisan-lapisan sedih yang maha menipu.
sama sekali tak ada waspada yang mengisi pengetahuan kita
lagi. tiba-tiba kita turut bersedih dan karena itulah mereka
bersedia jatuh ke dalam tebing, seolah mengorbankan diri
dan kita mengapung di permukaan jejak mereka yang mengepung
—di sini
kita berkesedihan, berkesedihan, berkesedihan tidak berkesudahan
terpaksa tersiksa merindukan dan mereka-reka kapan mereka
datang menipu kita sekali dan sekali lagi.
mereka butuh tubuh yang terjatuh ke dalam tebing sendiri
untuk hidup. berkali-kali. kita betah dan tabah menyadari
kesedihan hanya reda oleh kesedihan yang berulang kali.
sepanjang kala.
3. Airmata Mati
yang berjatuhan dan tak bisa kembali ke langit mereka:
airmata yang tiba-tiba mati dan tinggal dalam ingatan
berwaktu-waktu mengasuh dan mengasah diri
menunggu hingga alir airnya menggelombang
dan busa-busanya menggelembung
lalu kelak dengan mudah bisa menelan habis kita
dan kini apa yang mampu dielakkan
oleh kita kecuali kata-kata?
4. Jalan Melempang dan Melengang
tak ada lekuk liku dan yang menyimpang atau turun
dan mendaki yang bisa menyembunyikan kita
—pelangkah-pelangkah takut yang mencari suaka
jalan itu terus melebar ke mana-mana,
dan membawa kita tidak ke mana-mana
selain ke tempat berangkat—selalu ke semula
jalan itu tak menyimpan ujung dan tujuan
kita tersesat di kerataan yang maha lapang
menjadi kecil, lebih kecil dari yang lebih kecil dari debu,
di telapak tangannya
lalu kita telah menjadi yang paling panik dan renik
yang akan remuk dalam lengan-lengan lengangnya
memang kita belum mati,
hanya lebih tersiksa dari hidup
dan tersiksa mengharap tidak hidup
5. Kitab-Kitab Penyesat
memiliki warna-warni lembut dan sejuk
seperti bayang-bayang yang menghalau kemarau
dan orang terhindar dari terbunuh dahaga
kita memasuki halaman-halaman
dan mengetuk pintu-pintu mereka
bermimpi tidur di pelukan kata-kata
dan kalimat mereka—yang rupanya
muslihat
apa? dengan sakit kita mendatangi apotik
yang menjual rupa-rupa racun
o, kita sendiri yang mengetuk
untuk masuk mengambil kutuk!
6. Rimba Suara
kita dulu memang mencintai tumbuh-tumbuhan
nenek moyang kita paling petani. rahim subur
yang melahirkan kita ialah tanah-tanah gembur
namun apa yang ingin kita buat hijau kini?
lalu muncullah mereka, suara-suara itu,
yang mula-mula sembunyi di mulut kita sendiri
yang malu-malu menyebut diri kawan
tapi enggan pula menyebut diri lawan
kita tidak sedang membangun surga dengan rimba
lalu ada buah-buahan yang menyelamatkan
dan mengirimkan kita ke bumi yang kosong
dan kita mulai bisa menggarap hidup
rupanya kita menimbun diri sendiri di rimbun
suara-suara yang hutan itu—yang kuat
melampaui daya hantu tuhan-tuhan
7. Bayangan-Bayangan Kita
bukan bayangan yang hitam tanpa cahaya mata
bukan makhluk yang mati tanpa kita
mereka sekawanan yang menyerupai kita
dengan pikiran yang membolak-balik
pengetahuan kita
kita berpikir telah melahirkan mereka,
mereka berpikir kita anak-anak durhaka
yang meminta hukuman
medan perang adalah cermin
namun mereka lebih gesit bergerak
dan kita mengikutinya—kita menampar
wajah kita ketika mereka menampar wajah kita
kita menangisi diri kita
ketika mereka menertawai kita
8. Hari Pertimbangan
dia, yang menamai diri hari pertimbangan,
mengumpulkan kita dan mengundang
tebing itu, kunang-kunang itu, airmata itu,
jalan-jalan itu, kitab-kitab itu, hutan-hutan itu,
bayangan-bayangan itu
dia menyuguhi kita pertunjukan dan pesta
yang mengandung rasa penasaran
dia membiarkan kita mabuk dan bicara
memperkenalkan diri sebagai tokoh utama—
satu-satunya tokoh yang paling berdaya,
yang paling dianiaya
dia dan tamu-tamunya menertawai dan menghadiahi
kita senjata-senjata dan pilihan untuk bunuh diri
atau meninggalkan cerita ini dengan mengaku
kalah
dan kita melakukan kedua-duanya
Langganan:
Postingan (Atom)



