14 September 2015

Yuki-Onna


Oleh: An Hasibuan dan Fina Lanahdiana

Sumber: Detik.com

            
Musim  dingin yang rapuh. Seekor anjing berwarna abu-abu pekat mengantarkan Fuku tersesat dalam sebuah kerumitan badai salju di hutan Aokigahara—hutan yang dipercaya orang Jepang sebagai salah satu tempat keramat untuk bunuh diri. Jiro—nama anjing itu—tiba-tiba berlari seolah kuda pacu yang tengah berlaga, menembus labirin demi labirin yang membingungkan sebab segalanya telah berubah menjadi bukit landai berwarna putih. Fuku kehilangan  jejak  Jiro, sebab napasnya tak cukup kuat untuk bertanding lari dengan seekor anjing.
Malam kian pekat dan dingin seolah hantu yang mengepung pori-pori kulit tubuhnya. Embusan angin menumpuk butir-butir salju hingga menyerupai puncak kecil di kedua kakinya. Langkahnya memberat serupa dijatuhi beban batu-batu sungai, sementara ia mesti berjalan menanjak menuju arah entah yang semakin membuat tulangnya hendak patah jadi sebuah kepayahan.
            Ia semakin gusar. Matanya bagai ditunggangi peri-peri tidur. Tubuhnya yang kian gigil memaksa untuk berhenti berjalan dan segera menepi, sebab jika sesekali ia berhasil melepaskan kantuk, tubuhnya membentur batang pohon yang hanya bisa terlihat dalam jarak satu meter dengan kondisi mata yang segar dengan bantuan penerangan seadanya.
            Di bawah sebatang pohon besar, ia rebah. Kedua telapak tangan yang dilingkupi kaus tangan ia kibaskan untuk menyingkirkan tiap butir es yang menempel di sekujur tubuhnya. Ia menahan diri dengan sepenuh kekuatan agar tak benar-benar tidur, kecuali ia memilih mati tertimbun badai salju yang semakin menjadi. Kepalanya terkantuk-kantuk mencium dengkulnya sendiri, namun ia segera menyadari bahwa dirinya sedang berjuang dari ancaman yang bernama kematian.
Ia memastikan matanya tak sedang menangkap adegan di dalam mimpi tidurnya. Samar penglihatannya menangkap sesosok wanita mengenakan kimono putih. Wajahnya tampak kontras dengan sedikit bagian tertutup oleh rambut yang tergerai. Benaknya mulai menduga-duga siapa gerangan wanita yang tak lazim itu, tak lazim sebab sebagai laki-laki yang semestinya lebih kuat dibandingkan  wanita, ia hampir merasakan sebuah kehancuran, sementara wanita itu seolah baik-baik saja meski suhu kulit manusia pada umumya tidak tahan terhadap terpaan salju—sementara ia tidak memakai baju tebal jenis apapun—yang meresap ke dalam tulang serupa jarum-jarum kecil yang menyakitkan.
            “Siapa?” teriak Fuku.
            Wanita itu masih bungkam. Perlahan ia membalikkan tubuhnya dan bergerak menjauh.
            “Tu-tunggu! Oy!”
            Fuku bangkit dari duduknya dengan tergesa, lalu tersungkur akibat sepatu bot yang dipakainya menginjak lapisan salju yang dalam. Ia berusaha bangkit sepenuh yang ia bisa lakukan. Sementara wanita itu bergerak semakin menjauh dari tempatnya semula.
            “Tunggu!” Ia kembali melepaskan suara. Kau tahu jalan keluar dari sini? Tolong aku. Aku sedang mencari Jiro, anjingku yang tiba-tiba berlari seperti sedang dirasuki roh halus, tapi aku tersesat. Langkahnya terseok-seok, sementara tangannya serupa hendak menggenggam udara.
            Bagai seseorang yang kedua telinganya terganggu—hingga tidak bisa menangkap suara apapun—wanita itu terus berjalan, semakin menjauh dari jangkauan Fuku. Kaki wanita itu seperti tak menapak  permukaan salju, dan ia lekas menghilang ditelan dinding putih yang seolah tanpa batas dan jalan keluar itu.  
Badai mengamuk. Suara Fuku tak akan bisa mencapai telinga wanita berkimono putih lagi. Bibirnya biru pucat keunguan. Matanya kabur. Napasnya kian sesak, sehingga tubuh kurusnya roboh dan tertimbun bola-bola salju yang menggelinding dari dataran yang lebih tinggi, mulai dari ukuran segenggam tangan hingga ukuran yang lebih besar.
***
Matanya mengerjap, mencoba mengingat peristiwa yang terjadi sebelumnya. Kini ia berada di sebuah tempat yang sangat minim cahaya. Meski begitu, ia menangkap sosok wanita berkimono putih yang ia lihat sebelumnya.
"Kau?" Fuku membenarkan posisi duduknya bersandar pada dinding batu.
Wanita itu membalikkan badan. Bola matanya yang sayu memberikan kesan ekspresi datar dan sama sekali tidak memberikan tanda-tanda bahwa ia akan memulai sebuah perbincangan.
"Kau yang membawaku ke mari? Terima kasih."
Suara gemuruh halus dan hembusan kabut putih yang terlihat di depan matanya menandakan bahwa ia masih belum lepas dari cengkraman hutan rimba dan berada di antara badai salju.
"Kenapa hanya berdiri di sana? Namaku Fuku. Kau?" Lanjutnya sambil bangkit dan mendekati wanita itu.
Wanita itu  melangkah ke belakang. Melihatnya  demikian, Fuku mengurungkan niat untuk mendekatinya. Mungkin  sangat tak sopan baginya untuk melakukan sesuatu yang tak diinginkan wanita berkulit putih pucat itu—yang bahkan terlalu pucat untuk ukuran manusia. Mungkinkah ia wanita salju yang biasanya muncul untuk mengerjai para laki-laki? Bila benar, seharusnya aku sudah mati saat ini. Pikir Fuku.
Bersin yang tiba-tiba menyadarkan Fuku bahwa udara dinngin semakin menyergapnya. Ia kembali menjatuhkan diri dan merapatkan kakinya dalam dekapan tangan. Sesekali ia membuka kaus tangan—lalu mengembuskan napas dari mulut—untuk kemudian ia kenakan kembali. Ia terlalu menikmati itu hingga hampir melupakan kehadiran wanita berkimono putih  yang masih memperhatikannya.
"Yuna. Namaku Yuna."
***
            Tubuh Fuku sangat dekat dengan tubuh Yuna, mereka duduk  sejajar dan berhadapan, di depan tumpukan kayu-kayu kering yang berantakan—yang direncanakan sebagai bahan menciptakan perapian—untuk menghalau badan Fuku yang tampak sebagai tubuh seorang laki-laki pesakitan. Yuna mencoba mengambil pemantik, dan mulutnya tetap tidak mengucapkan banyak kalimat yang barangkali ia pikir akan sia-sia belaka.
            "Sungguh tidak pernah terpikir olehku …” Kalimat Fuku menggantung. Ragu.
            “Aku tahu.”
            “A-apa?”
            "Kau pasti heran dengan kedatanganku yang tiba-tiba, di sebuah tempat yang bahkan tidak memungkinkan seseorang bertahan di dalamnya.”
            “Ya. Apa lagi kau seorang wanita.”
            “Sudah kuduga.”
            Sebuah rumah—jika memang layak disebut demikian—yang hanya terbentuk dari tumpukan batu-batu rapat menyerupai gua, namun lebih sempit dan terbuka—jika malam datang, kau bisa memandang bintang-bintang dengan leluasa sampai kau merasa bosan—yang dinaungi pohon-pohon pinus persis seperti rumah kemah yang sengaja dibangun untuk bermain anak-anak sehingga memungkinkan mereka untuk bermain petak umpet.
            Percakapan demi percakapan berlangsung begitu khidmat. Dingin yang menjalar mulai berganti dengan kehangatan. Fuku melepas sarung tangan yang membalut kedua telapak tangannya, lalu menggerak-gerakkannya di atas api kecil yang sudah dibuat Yuna.
            “Kau tidak takut hidup sendirian? Atau kau mempunyai keluarga lain?”
            Yuna menggeleng.
            "Apakah kau percaya jika aku ditakdirkan menjadi kekasihmu?”
            Seolah tak ingin mempercayai ucapan Yuna, bibirnya menggumamkan kata ‘mana mungkin begitu’, kemudian ia tertawa. Tawa yang terdengar kering dan rapuh.
            narukami no
            sukoshii toyomite
            sashi kumori
            yuki mo furano ka?
            kimi wo matteru?1
            "Itu tanka2 tentang hujan. Sedikit kuubah liriknya agar sesuai dengan nuansa bersalju seperti ini. Haha, kau pasti tidak tahu jawabannya, kan?”
            "Dan aku di sini memang untuk menunggumu.”
            Seperti hal-hal yang seringkali terjadi pada seorang laki-laki yang disanjung oleh seorang wanita—apa lagi baru dikenalnya—yang menyatakan cinta lebih dulu, Fuku merasa takjub sebab jarang sekali wanita yang memiliki keberanian seperti itu. Barangkali ada, namun sedikit sekali yang mampu mengesampingkan ego dan perasaan gengsi yang berlebihan. Ia tersipu-sipu dan tiba-tiba merasakan kekuatan yang dahsyat mengaliri tubuhnya, kekuatan yang meyakinkan bahwa Yuna adalah wanita yang pantas dijadikan kekasih. Mengingat saat ini pun dirinya tetap lajang di usia menjelang tiga puluh. Sementara Yuna merasakan kebahagiaan sebab ia telah mencengkeram mangsa yang datang dengan sendirinya tanpa ia mesti berpayah-payah.
            "Benarkah? Aku bahkan sulit sekali menemukan wanita yang pantas untuk kujadikan istri.”
            "Karena aku takdirmu yang sesungguhnya.”
            Senyum Yuna begitu memikat perhatian Fuku. Ia benar-benar merasakan kehangatan melebihi kehangatan yang terpancar dari api-api kecil di atas kayu di hadapannya.
            "Maukah kau menunjukkan jalan keluar untukku dan kita pergi bersama? Ibuku pasti akan sangat senang, anak laki-lakinya ini akhirnya menemukan seorang wanita cantik yang memiliki cinta yang tulus.”
            “Boleh saja. Tapi …”
            “Kenapa?”
            "Aku telah menolongmu di tengah badai salju. Maukah kau menciumku?”
            "Ah, itu bukan sesuatu yang sulit. Aku akan sangat senang melakukannya. Kau semakin meyakinkanku kalau ucapanmu benar.”
            “Ucapan yang mana?”
            "Bahwa aku adalah takdirmu, dan kau adalah takdirku. Kau diciptakan untuk menungguku tersesat ke dalam rimba salju yang tiada ujung ini.”
            “Tapi kau akan mati.” Fuku tercekat.
Ia kembali mengulangi kalimat Yuna dalam kepalanya yang terasa sesak. Wajahnya sedikit menunduk, matanya tampak sedang menimang sesuatu.
            “Kecuali terjadi sebuah keajaiban.”
            "Aku percaya keajaiban itu ada. Maka, lakukanlah. Selanjutnya kita akan bahagia selamanya.”
            “Tidak.”
            "Kenapa? Bukankah kau mengatakan bahwa aku adalah takdirmu?”
            “Aku tidak tahu kapan keajaiban pernah menyertai hidupku.”
            "Ayolah, keajaiban itu ada. Percayalah.”
            Yuna merasakan cinta yang sesungguhnya, datang sebab memang sudah waktunya. Tapi di sisi lain Fuku adalah mangsanya. Sebuah gejolak berlompatan di dalam dadanya. Ia tidak pernah membayangkan sebuah perasaan jatuh cinta sebelumnya.
            "Cinta adalah sebuah kerelaan. Maka aku akan melakukannya.”
            Keringat membanjiri sekujur tubuh Fuku. Dingin. Lebih dingin dari apapun. Tiupan napas  Yuna yang menyerupai asap putih telah mengantarkannya pada kebebasan tanpa batas. Tubuhnya meregang sebentar, lalu tampak sebuah kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang semakin mayat.  Sebuah kerelaan bernama cinta. Yuna menjatuhkan tubuh Fuku dan memeluk sekuat-kuatnya.
            narukami no
            sukoshii toyomite
            furazu to mo
            warewa tomaramu
            imoshi todomeba3

2014

Catatan:
1.      Sambaran petir  yang samar, langit mendung, mungkin salju datang, bila demikian maukah kau tetap menungguku?
2.      Puisi Jepang yang terdiri dari lima baris dan mengikuti suatu pola
3.      Sambaran petir yang samar, bahkan bila salju tidak datang, aku akan tetap di sini bersama denganmu.
4.      Puisi (kutipan 1 dan 3) diambil dari Anime Kotonoha no Niwa dengan sedikit perubahan.

Bisa juga dibaca di sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar