13 Februari 2014

Keinginan Bersenang-senang

ia menyebut dirinya sebagai jalan ibu kota
yang penuh sesak dengan antrian aspal yang berlubang
kemudian di sebuah toko, ia begitu disengat rasa penasaran
untuk mengepas baju dan asesoris; yang ia jadikan alasan melupakan kemacetan

kampus yang begitu payah
menyisakan kebiasaan memburu meja makan
yang dilengkapi aneka fasilitas hotspot area
kemudian terang-terangan menunjuk siapa lebih milenium dari siapa

di sebuah kos, yang tersisa hanyalah
mimpi yang kelelahan diajak jalan-jalan
yang semakin kurus dikuras keinginan bersenang-senang

2013

Buah yang Jatuh di Kepala Kami

i.
di kepala kami tumbuh buah-buahan
yang setiap kali ingin kami petik
sebagai pepatah yang patuh pada petuah
barangkali semacam teduh payung yang bersedia menampung hujan
bagi lengan sesiapa saja yang bertandang

ii.
di luar orang-orang berebut televisi
yang merah jambu oleh ucapan dan janji-janji pemilu yang kemarau
dimana di dalamnya kami semakin dipeluk oleh gedung-gedung tinggi
yang melebihi daftar panjang pesakitan di musim hujan
yang membuat kami kehilangan perigi

iii
maka kemudian hutan di kepala kami menjadi tebing curam
yang sewaktu-waktu bisa menjadi kesia-siaan yang panjang
bagi kepala yang mestinya bisa menampung
banyak tumpangan persoalan pesawat terbang

2013

Perihal Layang-layang

ada yang datang menarik perasaan-perasaan sebagai pesan untuk saling mengingatkan. di dunia ini yang kecil sebab kita adalah satu tangan yang menggenggam perjuangan yang dibesarkan oleh angin; oleh musim yang datang dan berpindah ke lain arah

di halaman, kita tak ubahnya tanah lapang yang menahan perih pijakan-pijakan, akar pohon, serta berbagai macam keinginan yang kerap kita umpamakan sebagai cita-cita. seperti pertanyaan yang terus diulang di jam sekolah dan tak pernah bosan untuk kita angankan—kita renungkan

kamu yang hendak menjadi apa, barangkali di pikiranmu muncul sebuah bentuk menyerupai layang-layang. yang diulur ke puncak oleh seorang anak yang melarikan kakinya di lapangan sambil tertawa riang. ia kemudian berkata bahwa layang-layangnya tak akan terbang jika angin tak menyerang udara yang hampa.

di lengannya muncul sebuah harapan yang memanjang ke atas, ke arah langit. Ibunya yang mengajarkan dongeng setiap malam, agar ia mempunyai mimpi yang indah; yang bisa ia simpan di telapak kakinya kelak, saat ia tak tahu mesti meminjam jari siapa yang bisa menggenggam tangannya yang sendirian.

2013

9 Februari 2014

Monster

 
 
Unsplash - Tomasz Sroka

Aku melihat monster yang bergerak-gerak di matanya. Suaranya pecah di udara serupa irama yang gagal menemu nada. Nyaris saja mulutnya menerkamku mentah-mentah. Terkadang aku heran, lalu berpikir mahluk apa ia hingga begitu berani membuka mulutnya lebar-lebar dengan deretan gigi yang sewaktu-waktu bisa saja memotong lidahnya sendiri.

Sudah berulang kali ia melakukan itu, bahkan sejak pertama kali aku datang menemuinya. Penampilannya aneh, rambutnya dibiarkan awut-awutan dengan pakaian yang tidak terlalu rapi.

Aku tak berani bicara banyak, meski ia kerap sekali memukul dadaku dengan suaranya yang melengking. Jika sudah begitu, aku tiba-tiba saja berubah menjadi sangat pendek. Bahkan mungkin lebih pendek dari batas mata kaki. Aku ingin berlari untuk menghindari matanya, juga suaranya. Tapi nyatanya tak bisa, aku masih saja mesti berada di dekatnya, bersamanya.

Ia kerap membuat lelucon garing yang sama sekali tak bisa menjadikanku kembali ke ukuran normal.
Ia pernah mengalami kecelakaan, kepalanya bocor dan mungkin itu yang membuatnya gila. Itu menurutku saja. Ia begitu manis menceritakan kebaikan-kebaikannya. Setiap pagi, saat aku datang aku dipaksa untuk mencium tangannya. Ah, sungguh ini bukan ide yang baik.

Aku membenci matanya yang seperti mata kucing yang menemukan mangsa. Aku membenci mulut manisnya yang begitu lihai meramu cerita. Aku membenci suaranya yang seperti lolongan anjing liar. Kau percaya tidak? Orang-orang di sekitarnya bahkan sangat setia menjadi pendengarnya. Memang itu bukan masalahku, tapi sungguh aku merasa sangat terganggu. Kalau saja aku punya suara yang melebihi suaranya aku tidak akan segan untuk menyumpal mulutnya rapat-rapat, lalu membuat matanya terbakar sehingga tak akan ada lagi monster yang bergerak-gerak di matanya.

***

Malam ini aku tak bisa tidur, Aku marah! Aku muak! Aku menemui salah seorang sahabatku.

“Apakah menurutmu aku sudah gila?”

“Tidak, kau hanya sedang berada di titik yang lebih rendah.Tapi baiknya tak usah kau hiraukan.”

“Membiarkan telingaku pura-pura tidak mendengarnya?”

“Ya,”

“Lalu?”

“Hanya itu.”

***

Ia adalah penjaga buku dan kesunyian. Namun ia sama sekali tak sunyi! Aku mencari-cari di mana sunyi berada, namun tak ada. Turun-naik, keluar-masuk ruangan aku habiskan dengan begitu saja tanpa sesuatu yang berarti. Aku mencari sunyi.

Aku duduk di sebuah ruang yang senyap; di pojok ruangan, dengan beberapa gelintir manusia di dalamnya. Aku menemui buku-buku yang berdiri tegak pada masing-masing barisannya. Tidak begitu rapi. Aku memandangnya, kemudian memaksa tanganku untuk meraihnya. Satu buku, dua buku ... kurasa cukup. Aku menemukan buku-buku, tapi aku belum bisa menemukan sunyi. Aku masih mancarinya.

Seseorang menghampiriku, seorang lelaki muda. Usianya delapan belas tahun. Aku tak bisa membantah, sunyi memang tak perlu dicari. Aku hanya butuh sesuatu yang bisa mengembalikan ukuran tubuhku seperti semula. Ia begitu bersemangat. Aku sedikit melengkungkan bibirku di hadapannya. Ia tak berkata apa-apa. Aku berdiri, kemudian duduk di sebuah kursi. Kami saling berhadapan. Ia memulai percakapan. Mungkin ini yang mestinya aku cari, bukan sunyi. Sunyi hanya diam yang beraturan.

Kembali lagi suara yang menakutkan itu kudengar. Matanya menyala penuh api.

“Ha ha ha ...”

Aku ketakutan. Berjalan mendekatinya, lalu diam. Aku tak berani memandang matanya, aku takut jika ...

Satu buku, dua buku ... aku menyelesaikannya. Ia sedang bisa menjaga mata dan suaranya. Aku mulai tenang. Kini ukuran tubuhku masih pendek, tapi hampir sepertiga dari ukuran semula. Pekerjaanku hampir beres.

***

Keesokan harinya aku datang menemuinya. Ia sedang duduk dengan gaya dimanis-maniskan. Kembali aku dipaksa untuk mencium tangannya. Ia masih diam untuk beberapa menit, lalu ia memulai ceritanya. Seperti biasa aku hanya berlagak menganggukkan kepala. Maka ia tak akan memanjangkan suaranya. Tubuhku sudah kembali seperti semula. Aku berharap ia tak lagi membuat tubuhku kecil dan pendek lagi seukuran batas mata kaki. Karena itu akan membuatku ingin sekali meninju mulutnya yang jarum itu.

Terkadang hari berjalan begitu mulus tanpa suaranya yang menyambar-nyambar seperti halilintar. Ah, aku begitu muak jika mengingat apapun tentangnya.

Di jam istirahat, aku tak lagi memikirkan sunyi. Ia datang sendiri. Aku pun bercakap dengan diriku sendiri, tersenyum sendiri, dan tertawa sendiri. Aku sudah gila? Tidak. Aku tidak pernah merasa seperti itu. Aku baik-baik saja. Aku senang tidak ada yang menggangguku lagi. Aku telah membunuhnya, monster yang ada di matanya. Sebab aku khawatir suatu saat ia kembali menggangguku, membuat tubuhku menjadi kerdil, dan juga kehilangan suaraku. Aku tak mau lagi dipaksa mencium tangannya. Dan sekarang monster yang bergerak-gerak di matanya berpindah ke mataku. Aku mengikuti semua keinginannya.

2012

Menyeduh Kopi di Kepala

Cerpen Fina Lanahdiana

 
Pixabay - S. Hermann dan F. Ritcher

Wajahnya, wajah wanita itu, selalu hadir lebih pagi daripada bunyi jam weker yang selalu bising dan membuat kepalaku sedikit pening, hingga aku segera beranjak dari tempat tidurku.

“Sudahkah kau mengisi lambungmu dengan secangkir kopi, sayang?”

Begitulah yang kurasakan setiap pagi tepat setelah aku bangun dari jam tidur yang tak pernah genap. Ah, tidak. Bahkan itu hanya bagian dari halusinasi seperti yang orang-orang katakan pada diriku.

“Kau gila, Roney!” Begitulah mereka sering mengumpatku.

Aku sering melihat mereka saling mendekatkan mulut ke telinga satu sama lain saat mereka tengah bersantai di salah satu meja pada sebuah kafĂ© yang aku ada di dalamnya untuk sekedar menghangatkan diri dengan secangkir kopi atau sekedar berbincang-bincang—setiap pagi. Ya, tentu saja mereka mengenalku. Karena sebagian dari mereka adalah teman lama yang sering mengejekku saat aku masih duduk di bangku sekolah. Bukan karena aku tolol, tapi kupikir karena penampilanku yang saat itu masih cupu dan kutu buku—dengan kacamata tebal, kerah baju yang selalu terkancing, dan…emm, sudahlah. Itu saja sudah cukup, bukan?

“Hati-hati dengan orang itu!”

Mereka sering meneriakiku dengan jari telunjuk yang diarahkan ke wajahku. Ya, aku ingat betul itu. Kau pikir aku panik atau khawatir mengenai apa yang mereka lakukan padaku? Tidak, aku sama sekali tidak merasa keberatan. Dan ketika kuangkat wajahku, kemudian mulai membulatkan sepasang mata dengan kacamata minus yang selalu kusimpan di dalam saku baju, aku melihat kepala mereka yang tiba-tiba tertunduk tanpa kuperintahkan sedikitpun. Mungkin saja mereka merasa malu saat mereka mengetahui keberadaanku yang tengah asik mereka jadikan bahan perbincangan mereka. Entah sebagai lelucon, atau sengaja ingin mengejekku. Atau itu hanya perasaanku saja. Entahlah.

“Sudahkah kau mengisi lambungmu dengan secangkir kopi, sayang?”

Ah, kata-kata itu selalu muncul di kepala, setiap hari setelah aku bangun tidur. Tapi sekali lagi, aku tidak sedang satu atap dengan wanita itu, wanita yang tiba-tiba menyembul dari kepulan asap kopi atau dari cuaca yang mendadak lebih dingin dari hujan bulan Juni*. “Oh, derajat celcius ini bahkan terlampau banyak berhutang pada panas matahari, sayang.” Begitulah yang sering kuucapkan selanjutnya tanpa kau tahu--wanita yang gemar berjalan-jalan di gubuk-gubuk di dadaku--tentang apa yang kusaksikan setiap hari tentangmu, Aleya. Mungkin butuh beberapa waktu lamanya untukku belajar mencintai hal-hal yang kau suka. Seperti berjalan menggunakan tangan, mungkin. Ataupun hal-hal gila yang lain, aku rela. Dan demikian pula aku butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menghilangkan kenangan kita. Atau mungkin hanya kenanganku saja.

***

Beberapa hari belakangan ini aku sering mengingat kenangan kita, saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah. Ah, dulu kau masih terlampau acuh tentang urusan cinta. Andai saja kau tahu, bahwa aku tak pernah hanya menganggapmu sekedar teman ngobrol atau sekedar teman bersenang-senang menghabiskan liburan, saat kita benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Saat ada waktu luang begitu, kau akan lebih senang mengajakku bertanding main game di rumahku. Lalu kau akan pulang dengan wajah yang dilipat-lipat, saat kau tahu bahwa kau harus menerima kekalahan dariku. Tapi tidak, sebelum kau pulang aku sering memberimu beberapa bungkus permen dari toples di meja kerja ayahku untuk mengembalikan senyum di bibir merahmu. Aku merasa geli jika harus mengingat hal itu, dan tak urung membuatku tertawa terbahak-bahak.

Namun rupanya kini aku justru harus menyimpan kenangan itu ke dalam koper di kepalaku rapat-rapat. Bahkan mungkin dibutuhkan beberapa kali lilitan borgol agar aku tidak kembali membukanya. Ah, bagaimana tidak jika aku masih mengahafal kalimat saat kau menemuiku beberapa waktu yang lalu, “Perkenalkan, Roney. Dia Leonel, kekasihku. Sebagai teman dekatku, kau tentu harus juga mengenalnya.”

Kau tahu, Aleya saat kau mengatakan kalimat itu dengan segenap kejujuranmu padaku mengenai lelaki yang menjadi kekasihmu itu, kepalaku mendadak panas dan benar-benar ingin meledak. Melebihi ledakan bom di Hiroshima, mungkin. Betapa dada ini mendebum terlampau keras, ingin sekali rasanya berteriak sekuat-kuatnya. Semata-mata agar kau tahu, Aleya. Betapa aku menunggu apa yang kau katakan tentang Leonel kekasihmu itu. Ya, tentu saja aku ingin menjadi kekasihmu, Aleya.

Aleya, betapa aku harus merelakan diriku pada kutipan omong kosong, “Cinta tak harus memiliki”. Aku benar-benar merasa bodoh sekaligus gila jika harus mempercayainya. Namun demikianlah adanya, aku memang harus mempercayainya. Sudah pasti sesal itu ada, kenapa dulu aku tak berterus terang kepadamu tentang segala perasaanku padamu meskipun pahit yang harus kuterima?. Dan kenapa kau harus bertemu Leonel? Bukankah kita telah sama-sama saling mengenal sebelum Leonel mengenalmu? Ah, memang tak ada gunanya aku menyalahkan sesal yang selalu datang belakangan. Namun aku benar-benar menyesal, mungkin kau harus tahu tentang ini.

Tanpa pernah diduga sebelumnya, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Aku berdiri persis di dekat jendela. Kutuliskan namamu pada kaca yang berembun akibat cipratan air hujan—Aleya. Wajahmu yang teduh, senyum yang mengembang dengan lesung di pipi yang begitu manis, serta perwatakanmu yang selalu ceria. Ah, betapa kau memang sangat susah untuk dihapus begitu saja. Aku bahkan tak mengerti, meski bagaimana lagi untuk bisa melupakanmu. Entah, apakah kemudian aku mampu membuka hati untuk wanita lain, atau aku akan terus mempertahankan rasa ini padamu. Namun rasanya sangat gila, bukan? Perlahan mataku mulai basah oleh genang air mata. Lagi-lagi aku menyesali perasaan ini. Aku menyesal mengenalmu? Rasanya tidak. Aku hanya menyesal kenapa mesti mencintaimu. Tapi jangan kau pikir aku lelaki yang lemah. Yang kualami ini bisa saja menimpa siapapun. Kau dengar? Siapapun. Termasuk juga lelaki sepertiku.

Perlahan kubuka lilitan borgol koper yang tersimpan rapi di kepalaku. Kukatakan, aku memang rindu! Betapa aku sangat kaget saat itu, satu per satu isi di dalamnya mengeluarkan diri dengan sendirinya, tanpa kuperintahkan sedikitpun. Lembaran album, buku harian, bermacam bungkusan kado, serta berbagai perangkat lainnya. Lalu mereka berjalan di depanku, mengelilingi tubuhku, menari-nari dengan indahnya, dan membawaku pada kenangan kesekian. Ah, lagi-lagi bersamamu, Aleya. Butuh beberapa waktu untuk mengingat semuanya. Namun tiba-tiba aku terbangun. Semua isi dari dalam koper itu terburai, lalu menghilang begitu saja. Ini masih pukul 02.35 dini hari, di kamarku yang kurancang sedemikian rupa agar aku merasa nyaman berada di dalamnya. Mengingat beberapa waktu belakangan ini aku sering merasa asing di dalam rumahku sendiri. Kata mereka yang sering menganggapku gila itu, aku sering melamun sendiri, berjalan sendiri, bercakap, tertawa, bakan menangis sendiri. Ya, itu benar. Namun itu kulakukan semata-mata agar aku mampu mengenal diriku yang dulu, setelah diriku terlalu banyak dimasuki wanita itu. Maka aku memang sedang ingin sendiri.

Di luar sana masih hujan. Aku sendirian di rumahku sendiri. Kau pasti bertanya di mana keluargaku, kakak, atau mungkin saja adikku? Baiklah, mereka baik-baik saja di rumah mereka sendiri. Kau berpikir aku egois karena membiarkan mereka tetap menempati rumah mereka sendiri? Kau salah, aku sudah membujuk mereka untuk ikut serta bersamaku. Menempati rumah yang kini kutempati sendiri ini. Namun rupanya mereka tak mudah dibujuk begitu saja, dengan alasan mereka tak mau merepotkanku. Kau dengar, mereka sangat peduli padaku. Oke, itu tak masalah. Aku tetap menyempatkan waktu untuk mengunjungi mereka, karena memang tak ada yang lebih menyenangkan daripada berkumpul bersama keluarga.

***

Someone Like You berulangkali mengalun dengan lembut. Lagu itu memang yang semestinya aku putar berulang kali dengan jarak yang tak terpaut jauh dari gendang telingaku. Memasangnya di ponsel saat ada yang tiba-tiba menelepon, mengatur sebagai nada alarm, atau mungkin sekedar lagu yang kustel saat aku tengah merampungkan pekerjaanku. Dengan begitu hatiku akan kembali menempatkan diri ke tempat yang semestinya.

Aku melihatmu, Aleya. Emm, bukan. Maksudku, aku melihat seseorang yang hampir sama sepertimu. Cara dia berjalan, senyum, makan, dan berbicara sangat mirip denganmu. Bahkan kalau aku tak salah ingat, dia begitu hafal makanan kesukaanku, jam tidurku, jam kerjaku, kebiasaanku setiap pagi, bahkan dia tahu betul tentang sesuatu yang belum pernah kutahu sebelumnya. Nanti kau pasti akan kaget bila kuceritakan siapa orang itu, orang yang mirip denganmu. Nanti dulu, hampir setiap hari ia menemaniku, kemanapun. Namun aku tak yakin kau kan menyukainya, bukan karena kau tak suka ada yang menyamaimu, tapi karena ternyata dia adalah kau yang kuciptakan dari diriku sendiri, lalu setiap pagi aku akan lebih gemar mengatakan pada diriku sendiri “Sudahkah kau mengisi lambungmu dengan secangkir kopi, sayang?”.

*Judul puisi Sapardi Djoko Damono